Rabu, 31 Desember 2014

Sebuah keresahan : 'kekayaan selaksa kata dan bahasa manusia..oh 2015..akankah aku kehilanganmu....'


Tahun 2014 akan berlalu..tahun 2015 akan datang...

Bagi saya tahun 2015 adalah tahun yang menegangkan...tapi saya mencoba untuk rileks dan tidak lebay...kenapa tegang??

Saya sudah memasuki tahap kemapanan, dan bagi saya itu menegangkan..sungguh perasaan yang aneh dan sulit saya definisikan...

Tahun 2009 saya lulus Pasca Sarjana...lalu saya mulai menikmati pekerjaan saya sebgai peneliti free lance yang tidak terikat. Saya tinggal di kost2an Abi dengan tarif Rp 175.000 per bulan, kasur saya tipis, di dalam kamar hanya terdapat seperangkat PC tinggalan S1 dulu, lemari plastik, dan rak buku yang padat dan over load. Saya mencari uang dengan menjadi peneliti kontrak di pagi-siang hari, menjadi pengajar di sebuah bimbingan belajar dan menjadi konsultan di beberapa SMA dalam hal pelatihan olimpiade science. Saya hidup di 2 kota Solo dan Jogja, sesekali mengambil data ke Karimun Jawa dan sering bepergian dengan kereta api jika ada pertemuan di Jakarta.

Saya jomblo waktu itu, saya punya banyak teman tapi saya jatuh cinta setengah gila pada seorang laki-laki (dan sekaligus mahaguru saya, ohhh saya sangat berhutang budi padanya). Laki-laki yang saya taksir sering bepergian dan sering tidak terdengar kabarnya. Sementara saya sendiri, dalam urusan cinta sudah membuat banyak orang patah hati, terutama bapak, ibu dan kakak saya, yang sering saya panggil Bu Uc. Mereka orang-orang yang paling rusak jantungnya karena melihat polah tingkah saya. Di saat semua teman saya sudah mulai memasuki tahapan 'mapan' dalam kehidupannya, tentu 'mapan' menurut sistem nilai yang umum beredar saat itu : pekerjaan yang pasti, pacar yang siap digandeng ke pelaminan, dll. sedangkan saya...hahahha...Saat itu, saya justru larut dalam pekerjaan saya yang sulit dijelaskan identitasnya, pacar jelas tidak ada atau paling tidak, tidak terlihat oleh mereka dsb.

Tapi dalam segala hal yang tidak pasti itu, saya menemukan banyak hal yang menyenangkan...seakan-akan aliran darah saya sudah menyatu dengan detak-detak ketegangan kejar tayang karena pekerjaan yang tidak beridentitas itu ternyata membawa konsekuensi saya punya banyak sekali proyek yang harus dibuat laporannya wkwkwkkwk...Belum lagi, saya harus hidup di 2 kota yang sama-sama menuntut kehadiran saya. Terus saat penghasilan dan gaji saya sedang tidak terlalu banyak, maka saya mulai mencari berbagai inovasi berhemat...mulai dari makan quacker oat saja, membeli nasi padang yang porsinya luar biasa besar dan membagi menjadi 2 porsi untuk 2 kali makan, menyimpan stock cincau dan sayur kangkung sampai memakan bubur bayi...ohhh my God..semua dalam rangka berhemat wkwkwkkw...

Masa-masa menjomblo bagi sayapun gag kalah seru. Saya ingat setiap malam setelah saya menyelesaikan tugas saya di kantor atau di lab, saya sering menghabiskan waktu saya di Bentara Budaya, melihat lukisan atau pameran desain grafis, saya menghabiskan waktu menonton teater, pertunjukkan musik perkusi, musikalisasi puisi, bedah buku, nonton wayang dan sendratari. Semua saya nikmati sendirian...kadang sih dengan beberapa teman.

Di Jogja saya punya komunitas teman-teman yang otaknya setengah gila seperti saya. Mereka kebanyakan adalah teman-teman di klub teater SMA, klub pecinta alam. Ada juga komunitas teman-teman kuliah yang sedang mengambil doktoral dan master. Saya juga berteman dengan beberapa teman waria, ODHA, beberapa suster, bruder dll. Mereka yang menyuntikkan berbagai nilai dan inspirasi. Di Solo, tentu saya punya saudara-saudara persekutuan yang sama-sama berjuang menjadi manusia yang baik.

Saya  belajar banyak kosa kata. Saya punya ribuan bahasa. Saya memilki kekayaan perasaan. Saya menulis cerpen, saya mencetak novel, saya membuat puisi, naskah drama dan dipentaskan. Dan tentu saja disamping itu, saya membuat proposal penelitian, modifikasi prosedur-prosedur kerja di laboratorium, kajian kesehatan. Saya bertemu dengan banyak pakar, berkorespondensi dengan ahli-ahli di bidang yang saat itu saya minati, mikrobiologi molekular dan evolusi.

hidup yang sangat seru...

Tahun 2012 oleh sebuah tawaran (red.tantangan) saya berangkat ke Papua. Sebuah tempat yang hanya saya lihat melalui mimpi dan penglihatan. Saya bekerja di sebuah lembaga penelitian pemerintah sebagai tenaga kontrak. Saya diberi kemurahan oleh atasan saya untuk tinggal di sebuah mess selama saya menjadi tenaga kontrak. Saya benar-benar pergi dari Jogja dan Solo yang penuh kenangan. masih dalam posisi single, happy dan tentu saja pekerjaan yang belum mapan (ini yang selalu saya sukai).

Tahun-tahun pertama saya habiskan untuk beradaptasi dengan banyak hal, budaya, teman-teman, kebiasaan hidup dan oh my God tentu saja biaya hidup yang sangat tinggi. Papua sangat indah, entah kenapa saya jatuh cinta dengan tempat ini, meski saya tahu harga 1 porsi nasi padang disini sama dengan 20 porsi nasi kucing di Jogja.

Tapi yahhh...bagi saya itu setara dengan pemandangan laut yang bisa saya nikmati setiap joging, dan kadang karena gag tahan saya sering langsung nyebur di Pantai Dok 2, lalu pulang ke mess dalam keadaan basah heheh. Pekerjaan saya tidak terlalu berbeda dengan yang saya kerjakan di Jogja, laboratorium, pasien, klinik, rumah sakit, penderita Tb dan mikrobiologi molekular. Cuma bedanya saya dipertajam dalam hal administrasi. Disini saya mulai bersentuhan dengan undang-undang, peraturan pemerintah dan tata kelola keuangan negara. Dulu saya gag terlalu pusing dengan urusan itu, tapi disini ya mau gag mau belajar.

Dalam beberapa bulan  saya mulai menemukan sahabat-sahabat baru, tentu saja ada beberapa tekanan dan konflik yang saya alami. Pernah juga gag tahan, dan packing barang plus mau pulang ke Jawa atau ke Sulawesi, tapi akhirnya toh saya tetap tinggal sampai sekarang.

Saya mulai melihat berbagai realitas yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Kesenjangan, ketidakadilan, karakter-karakter negatif dalam diri manusia bermunculan dihadapan saya sesering munculnya karakater-karakter negatif dalam diri saya yang tiba-tiba meledak saat saya merespon suatu hal yang kurang pas di hati saya. Saya mulai mengenali bagian-bagian dalam diri saya yang belum pernah saya lihat sebelumnya, dan beberapa sesungguhnya menakutkan bagi saya. Tapi banyak hal yang baik juga yang saya alami.

Saya mulai mendata mimpi-mimpi yang ingin saya lakukan di Papua. Diantaranya adalah mimpi untuk membangun sebuah sekolah alam dan perpustakaan kecil. Ohhh semoga semesta merestui..

Dalam posisi saya yang jomblo, saya bebas bergerak. Saya tidak takut bahaya, kelaparan dan kekurangan uang. Saya mulai menulis artikel-artikel tentang enaknya hidup melajang. Saya mulai mengenang pengalaman-pengalaman sial saya dalam asmara dan mulai pintar menertawai nasib sial saya. Saya mendapat like dari puluhan kadang ratusan orang setiap kali posting hal-hal yang berkaitan dengan status jomblo. Saya punya banyak kalimat pembelaan yang mampu dipakai kaum jomblo untuk menyelamatkan dirinya dari caci maki dunia. Toh jomblo bukan dosa..

Tapi penghujung tahun 2014 sangat menegangkan...saya takut apakah petualangan2 hati dan fisik yang saya nikmati diatas akan saya nikmati lagi. Sekarang pekerjaan saya relatif mapan, saya sudah jarang melewati garis-garis kritis masa bokek dan saya sudah bukan jomblo lagi. Tapi saya belum ingin menuliskan pengalaman romantis saya disini, karena saya masih dalam eforia masa berpacaran dan ingin menikmati itu sebagai pengalaman yang sangat personal. Pasangan saya baik dan tahu bahwa saya punya seribu satu petualangan semasa jomblo saya, seperti dia juga.

Tetapi ketegangan itu tetap mewarnai doa-doa pagi saya. Saya hanya tidak ingin kehilangan ratusan bahasa untuk menulis puisi dan membuat artikel. Saya tidak ingin miskin perasaan karena saya sudah tidak lagi hidup dalam pertanyaan-pertanyaan kehidupan. Saya takut kehilangan ketajaman indra saya pada kesepian, kesedihan dan kehilangan karena hal-hal itulah yang menumbuhkan rasa empati saya pada orang lain. Dan yang pasti saya sedang merasa bersalah dan mengkhianati teman-teman jomblo yang selama ini senasib dan sepenanggungan dengan saya.

Tapi..setiap kali saya melihat wajah lelaki tanah saya, saya tahu bahwa teman perjalanan ini akan membuat saya lebih banyak mengenal bahasa dan rasa kehidupan...saya sudah menikmati beberapa selama masa pacaran ini.

Tapi tetep tegang dan resah...oh tahun 2015...begitu menegangkan bagi saya..jadi dalam ketegangan ini saya ingin menuliskan puisi klasik milik Asaf yang selalu saya ulang di memori saya:

SIAPAKAH ADA PADAKU DI SURGA SELAIN ENGKAU....
SELAIN ENGKAU TIDAK ADA YANG KUINGINI DI BUMI....
SEKALIPUN DAGINGKU DAN JIWAKU HABIS LENYAP.....
GUNUNG BATU DAN KEKUATANKU TETAPLAH ALLAH...
SELAMANYA.....




Di Perbatasan NKRI dan Papua New Guini-Soeta Merauke
Kp.Puai-Sentani


Angkasa-Jayapura


Pantai Base G


Telaga Hati Infote - Sentani


Selasa, 23 Desember 2014

sang ibu...


Kadang Sang Penguasa waktu menciptakan kebetulan-kebetulan yang cantik…
Hehehe…
Tiba-tiba saya sadar bahwa hari Ibu jatuh di bulan Desember…
 Hari Natal…meski sejujurnya, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya saya sudah tidak mempunyai gairah lagi dengan seremonial natal sekarang…kumpul keluarga, ngobrol ngalor ngidul, sibuk-sibuk bikin acara yang meriah…ratusan juta melayang di minggu ke empat bulan desember..

Oh My God…
Tapi tetap memililih makna adalah keputusan kita…

Siapa yang paling layak merayakan natalnya dengan meriah..
Dialah seorang Ibu…

Pada mulanya dia hanya perawan biasa…bekerja di ladang, mengambil air di perigi, memberi makan ternak, menghadiri jamuan pernikahan kerabatnya dan tentu saja sebagai seorang perawan saleh..dia tidak pernah melewatkan hari sabat…
Hidupnya sederhana, segala sesuatu dinikmati dengan keceriaan yang polos..

Lalu saat dia mulai meranum, keremajaan membuncah pecah…maka jatuh cintalah perawan ini..

Laki-laki itu tidak terlalu menonjol, tidak banyak bicara tapi santun dan tentu saja seorang saleh..
Tangannya kasar, bahunya kekar, kulit timur tengah yang terbakar dan berselimut debu jalanan Nazaret…pastilah itu ciri khas tukang-tukang kayu di kampung Si Perawan…
Beberapa kali si perawan memergoki laki-laki tukang kayu memandanginya saat mereka tanpa sengaja bertemu di gerbang Salomo..
Oh Tuhan..darah serasa mendesir menusuk ulu hati si perawan…namun si perawan mencoba tetap tenang dan tidak gugup…
Lalu, mereka mulai berbicara satu-sama lain, mengingat teman-teman masa kecil yang ternyata sama-sama mereka kenal, membicarakan ladang dan musim petik anggur, mengobrolkan mujizat dan cerita zaman Musa membebaskan nenek moyang mereka dari Mesir, saling membagikan keprihatinan pada kemerosotan moral kaumnya dan hari itu datang juga setelah banyak hari dilalui…
Pertunangan…
Mereka saling memandang..menyematkan cincin…menerima berkat dari para tetua…
Semua mengalir begitu indah…si perawan tinggal menunggu hari pernikahan dengan tetap menjaga kesucian..tentu itu tidak sulit baginya, cintanya pada laki-laki tukang kayu adalah murni mengalir bersama tetes-tetes darah diseluruh pembuluhnya…

Kemudian sebuah ledakan seakan merubah ritme detik pada putaran waktu…
Siang…berdebu, panas..beberapa orang di luar sana mengutuki cuaca hari itu…

Lalu di rumah batu sang perawan sebuah sinar kosmik menyilaukan muncul…sesosok makhluk yang tidak terbayangkan berdiri didepannya…
Bersayap..bercahaya..dengan wajah menggentarkan…sendi-sendi lemas, seluruh tulang serasa menyusust dan melebur menjadi debu..keringat dingin mula menyembul di pori-pori…

Lalu sang makhluk agung bersayap menyapa ramah…’Salam hai engkau yang dikaruniai…’ seakan dia bisa merasakan degup jantung sang perawan yang mulai tak beraturan..dengan pertanyaan yang bergentayangan di alam pikirnya,

‘Jangan takut, Maria..engkau beroleh kasih karunia dihadapan Allah..’

Entah mengapa, degup jantung si perawan mulai beraturan saat mendengar suara yang sulit dia samakan entah itu suara manusia atau suara makhluk apa…

‘Engkau akan mengandung….’
Kali ini terasa sebuah sengatan…

‘dan engkau akan melahirkan, anak laki-laki…kau hendaknya menamai dia Yesus…’ Sengatan untuk kedua kali…dan ritme jantung mulai naik perlahan…

‘Ia, anak yang kau lahirkan, Dialah Sang Putra maha tinggi, raja yang dinanti olehmu dan nenek moyangmu…dia akan tegak berdiri di tahta bapa leluhurmu sang Daud…sampai selamanya…kerajaanNya kekal..tahtaNya mulia…jdi berbahagialah engkau hai perawan yang dikaruniai…’
Entah sejak kapan tapi si perawan sudah lemas tersungkur di tanah…pertanyaan bergentayangan yang tak terjawab dan berbagai sengatan….

Aku akan hamil…Sang Putera yang Maha Tinggi…dia yang dinantikan bangsaku..raja yang ditunggu…dan dia akan bernafas didalam diriku, bertumbuh dari sari pati makanan yang kucerna, kubawa berjalan kemana-mana…Oh Tuhan YHWH…pribadi macam apa kau ini???

Tapi aku ini perawan…tidak ada perawan yang hamil…
‘Tenang Maria, apa yang mustahil untuk Dia yang kau sembah selama ini???, adalah Roh yang maha tinggi akan tercurah atasmu…anak yang kau kandung akan disebut Anak Sang Penguasa Semesta, Maha Tinggi, Maha Kudus…bahakan si mandul Elizabeth dengan pucuk-pucuk yang telah mengering disegarkanNya kembali, ada janin perjanjian dalam rahim tua renta itu saat ini…Dia yang mengaruniamu begitu sempurna…’

Tenggorokan tercekat, dan pandangan kabur si perawan oleh genangan air mata..tiba-tiba ketakutan perlahan sirna…meski pertanyaan tetap bergentayangan…namun semacam keberanian misterius meledak di kepalanya…ilahi..murni..tanpa prasangka…sederhana…sang perawan menjawab :
AKU INI HAMBA JADILAH PADAKU MENURUT PERKATAANMU ITU…

Cahaya meredup…perawan tinggal sendirian…
Aku perawan…aku hamil…Sang Putra Yang Maha Tinggi akan berada disini…berbagi darah dan daging untuk 9 bulan denganku…mulia…sungguh pemurah Tuhanku…
Tapi aku perawan, aku hamil…
Apa yang dikatakan para pemuka agamaku..aku pezinah?? Mereka akan merajamku dengan batu, mereka akan mengusirku keluar pintu gerbang, seumur hidup aku akan menanggung noda sebagai pezinah..

bangsaku oh bangsaku….
Begitu sibuk merapal doa, dan tak berhenti menghafal taurat..namun tertindas dalam penjajahan…kehilangan keluhuran sejak berabad-abad silama, m,enjadi olok-olok bangsa-bangsa lain…
Sang Pembebas itu  akan tumbuh dirahimku….

Taruhanku??? 
Hidupku, cintaku…ya cintaku…laki-laki yang sudah menjadi separuh jiwa dan nafasku…
Apa katanya??? Kau wanita pengkhianat…kau tak bisa menjaga kesucian…tidak…tidak…dia tulus dia tak akan mengatakan hal-hal sekeji itu…tapi hokum adat..membuatnya kehilanganku..kami tak lagi bisa saling bertatapan, memetik anggur bersama atau berjalan-jalan di kebun zaitun…dia akan nelangsa, apalagi aku…

Aku akan hidup sebagai pezianah,dirajam batu sesuai aturan bangsaku, aku akan diasingkan, aku kehilangan cintaku…
Tapi janin ini ilahi..pembebas bangsaku…Dia yang akan memulihkan nenek moyangku dari rasa malu dan kain kabung…semua bangsa akan melihat Allah kami yang tak pernah tinggal diam…

Perlukah ragu?? Bahkan jika bayarannya adalah luka dan darah karena dirajam sebagai pezinah, dan kehilangan cintaku, separuh jiwa dan nafasku…aku akan maju..
‘Aku ini hamba, jadilah padaku sesuai perkataanNya’
Lalu si perawan bergerak dari tempatnya, membuka pintu, menghadapi dunia…
Pertanyaan tetap gentayangan, tangan-tangannya tetap gemetaran..tapi dengan sederhana dia menjawab seluruh keraguan :aku ini hamba, jadilah padaku sesuai perkataanMu…

Dialah Sang Ibu, yang mempersembahakan natal untuk kita disegala bangsa dan disegala abad…surga tidak berada ditelapaknya..surga tumbuh meretas dirahimnya…

Pergumulan Natal bagi si perawan, tidak serumit membuat nastar, kastangel dan menghiasi rumah dengan lampu-lampu gemerlapan…tidak serumit mempersiapkan pesta pora gila-gilaan dengan dana jutaan rupiah…
Natal adalah kesederhanaan penyerahan diri seorang perawan pemberani yang berani mengambil resiko dirajam batu, dianggap pezinah dan kehilangan cinta sejati…demi terbitnya fajar baru yang dinanti-nanti, sang pembebas…sang mesias…
Selamat hari Ibu…selamat hari natal…dan mari bersyukur kepada penguasa semesta karena telah menghadirkan sebuah catatan sejarah bagi kita..sang ibu yang pemberani.. 


Cat.cerita ini saya ambil adaptasi dari injil Lukas, dalam versi injil Matius diceritakan mengenai si tukang kayu yang didatangi malaikat dan diperintahkan untuk tetap mengambil si perawan kekasihnya sebgai istri...cerita yang sangat indah
Sangat bagus untuk melihat cerita versi orisinilnya, sejarah selalu memilki cara mengajar setiap generasi...

sekali lagi selamat natal dan selamat hari ibu, meski telat sehari heheh...



Senin, 22 Desember 2014

mimpi...

aku menemukanmu...atau kau yang mendapatkanku...entahlah
namun sudah kusulam sepi dengan puisi...
nyanyian teman kembara..
doa-doa sepanjang ziarah..
kan kita lukis sebuah sejarah
dan kita sambut pucuk-pucuk tunas merekah..
mereka generasi penyembah..
cinta kuat seperti maut..
tapi penyerahanlah garis takdir seorang hamba...
kau dan aku...




Jumat, 18 April 2014

nyanyian berkabung seorang perempuan tua di Yerusalem...

aku melayangka mataku ke awan-awan...
darimanakah datangnya pertolonganku....

kurapal doa ayahku Daud ratusan kali sejak fajar merekah dini hari,...
hingga siang menerbangkan debu-debu jalanan sunyi Yerusalem...


aku melayangka mataku ke awan-awan...
darimanakah datangnya pertolonganku...

Kurapal doa ayahku Daud ratusan kali..
sambil menahan sekapan duka menikam dada...
sambil menahan sisa-sisa air mata yang hampir mengering kemarin..

aku melayangka mataku ke awan-awan...
darimanakah datangnya pertolonganku...

kurapal doa ayahku Daud ratusan kali
darimanakah datang pertolonganku ya Tuhan...
pertolongan untuk seorang wanita tua renta..
ibu sang narapidana bangsa pilihanmu...
dia diolok-olok oleh mulut yang sebelumnya bersorak-sorai mneyerukan sambutan 'glori..glori sang raja salam'
dia disiksa, dilukai oleh tangan-tangan yang sebelumnya mengangkat daun-daun palem memuliakan kehadirannya di atas keledai...
dia dikhianati oleh kekasih yang makan, minum dan tidur dengannya...
dia dibiarkan sendiri..menanggung nyeri,perih daging yang terbuka ke udara oleh lecutan cambuk dan tsuskan besi-besi tajam...bukan oleh orang lain..tapi olehku...
olehku ya olehku...ibunya yang tua renta..yang tak sanggup berbuat apa-apa selain mengikutinya terseok-seok dijalanan berdebu penuh kerikil bukit tengkorak...

aku melayangka mataku ke awan-awan...
darimanakah datangnya pertolonganku...
jika harus kulewati sabat tersunyi dengan kenangan pedih kematian anak sulung kebanggaanku...

ya elohim yang rahmani...
apakah engkau sudah melupakan aku...
aku perawan miskin yang kepadanya kau utus malaikatmu

apakah Engkau sudah melupakan aku...
aku perawan miskin yang kepadanya kau wartakan kabar sukacita kedatangan mesias untuk bangsaku..
apakah Engkau sudah melupakan aku...
aku perawan miskin yang kepadanya kau titipkan beinih ilahi..anak nubuatan..sang raja kekal..
meskipun aku sendiri buakanlah siapa-siapa dan hanya seorang hamba..
apakah Engkau sudah melupakan aku...
aku perawan miskin yang tak sanggup menahan sukacita hingga mulutku tak henti-henti berkata
'JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN DAN HATIKU BERGEMBIRA KARENA ALLAH JURUSLAMTKU'
33 tahun yang lalu..
apakah Engkau sudah melupakan aku...

lihatlah aku ya elohim dan rahmani..
aku lemah dan hampir kalah...
tak kupedulikan cibiran dunia karena anakku adalah si gila yang dianggap menghujat Allah dengan mangatakan bahwa dirinya mesias...
tak kupedulikan ancaman penguasa, intimidasi ahli-ahli taurat dan para pemuka agama tentang sepak terjang anak lelakiku..
aku menghadapinya, aku menemaninya..aku sahabat anakku menempuh garis takdirnya..

tapi kini aku hampir kalah dan menyerah..
aku sanggup menghadapi cibiran dunia..
tapi aku dihantam kalah oleh rasa kehilangan..
aku sanggup menghadapi intimidasi ataupun pengucilan oleh kaumku sendiri..
tapi aku tak menyerah pada dukacita kematiannya..

tak bisa tidak...kucemari sabath yg harus kusucikan dengan teriakan yang sama seperti lirih rintihan putraku di kalvari : Eloi eloi lama sabhaktani...


aku melayangka mataku ke awan-awan...
darimanakah datangnya pertolonganku...

dalam abu dan kain kabung..
tetap kusimpan pengharapan..
nubuatmu tak pernah gagal..
temani aku ya Elohim...
















Jumat, 21 Februari 2014

memerangi stagnasi....

hai..haiiiii..

Aduh lama sekali saya tidak menulis dan menyambangi my Tectona Grandis...dan bagi saya itu adalah sinyal bahaya untuk jiwa saya..

Pada saat segala sesuatu berjalan begitu lembam dan nyaman..maka saat itu keliaran jiwa padam, kegilaan mulai surut dan akhirnya inspirasi meredup...mungkin stagnasi ini yang sedang saya hadapi...

Sejak dulu saya tahu bahwa ada titik2 rawan yang mengancam eksistensi saya..dan dari semua titik rawan itu saya mulai mengenali dengan baik bahwa virus yang paling berbahaya bagi sistem antibodi saya adalah sebuah virus yang bernama : ZONA NYAMAN...

Entah apakah saya sedang memasuki area dimana ruang berfikir mulai menyempit dan kreativitas mulai menipis??
Tapi akhir-akhir ini jarang sekali saya terlibat dalam pertarungan keresahan dan pencarian yang membuat saya mampu duduk berlama-lama didepan labtop, mencoret-coret dinding Tectona Grandis...
Ada sesuatu yang hilang dalam diri saya pada saat saya mulai menemukan kemapanan...
saya bukan lagi si kecil yang gelisah dan berdebat dengan rumus2 alam semesta..
saya merasa bahwa jiwa saya terlalu bersuka ria dan mudah puas dengan segala yang ada..
apakah saya sudah terbunuh..atau hanya mati suri...
saya merindukan saya yang terlalu reseh dengan lekuk-lekuk emosi hingga saya kehabisan diksi untuk mengekspresikan semua kegalauan dalam puisi...
justru sekarang saya sedang berfikir....
apakah pencarian saya dan keresahan saya sudah mencapai titik final????

bahwa saya merasakan cinta yang nikmat dan candu seperti layaknya trah manusia meretas matang pada usia saya..
saya tahu dan kami tahu itu bukan satu2nya pencarian selama ini..

entahlah....
saya tidak ingin terbunuh mati dalam si bengis stagnasi..tidak..tidak..tidak...

no...
anggaplah saya seperti pohon yang sedang meranggas untuk menghormati semesta musim gersang...dan dari setiap butir sel si pohon mempersiapkan sebuah pesta pora menyambut musim basah dengn gaun helai-helai hijau yang menggairahkan...

anggaplah..saya seonggok kayu mati di tepi pantai yang seolah tak terlalu penting...tapi kawanan rayap dan mikroorganisme pembusuk mulai mengnyam remah-remah selulosa menjadi peraduan tempat lumut si perintis dan paku-pakuan menegakkan dinasti mereka di jagad raya...

yang jelas..saya hanya meranggas..dan bukan mati...



sebatang pohon di Manggoapi-Manokwari Papua Barat..meranggas dan bukan mati



sebatang kayu yang dirajah kawanan rayap dan mikroorganisme hingga tersulam tempat berpijak tanaman perintis