Aduuhhhh nyesek banget gara-gara kamera digital (yang harganya murah....) ketinggalana di Jogja waktu perjalanan sebelum lebaran kemarin...Padahal ada banyak moment memikat yang tertangkap indra hiks....Haduuhh...cita-cita untuk menjadi blogger sejati dengan kualitas tulisan semakin 'mencerahkan' dan kualitas jepretan semakin aduhaiii jadi agak-agak bikin pesimis...
Tapi baiklah...fotografi..seperti namanya, adalah sebuah tool untuk membekukan setiap moment visual berbasis cahaya..membingkainya menjadi wordless poem yang berbentuk gambar...asupan indra penglihat...
tentu saja dalam setiap moment ada yang lebih merasuk kedalam daripada gelombang cahaya yang diejawantahkan dalam bentuk susunan pixel kamera (hiks..kata-kata penghiburan karena nyesel gag dapat foto keren)..itu adalah 'the meaning of the journey...the learning of the adventures and the changes of human being'.....
Liburan kemarin saya betul-betul menjalankan niat nekat saya untuk melakukan perjalanan ke Papua Barat. Meskipun tidak seutuhnya angan-angan saya berhasil terwujud, tapi yaahhhh lumayanlah saya tetap menikmati perjalanan kemarin karena ada hal-hal tak terduga yang saya dapatkan. Itulah sebabnya saya selalu senang dengan istilah 'serendipity'....Kalo dalam terjemahan leksikalnya serendipity berarti : Finding something while looking for the other thing...
Pertama, rencana untuk naik kapal dari Jayapura sendiri gagal karena ternyata dapat tiket pesawat murah dari agen perjalanan seorang kawan hehehehehehehehhe...horeee!!!!! Nah karena kepastian tiket begitu mendadak maka tentu saja packing serba tergesa-gesa. Dengan uang di dompet yang mepet, berangkatlah saya ke Manokwari, meski sebenarnya rencana awal mau ke Sorong, gara-gara tiket murah dan pengen ketemu mantan kakak kelas di TN Teluk Cendrawasih ya okelahhh.... Manokwari I'm cominnnnn..
Sampai di Manokwari..langsung menghubungi kakak terbaik dan terkeren yang saya temukan di Papua pada tahun-tahun pertama perantauan saya. Nah lalu beliau inilah yang memfasilitasi liburan asik kali ini wkwk...
Selama di Manokwari saya benar-benar menikmati kehangatan sahabat-sahabat baru di belahan Papua yang lain.
Satu tahun pertama saya menjalani masa-masa penyesuaian di Jayapura. Membangun relasi dengan rekan-rekan sekantor yang merupakan komunitas tunggal bagi saya di Papua. Teman-teman kantor ini bukan hanya sekedar teman kerja tetapi pada akhirnya menjadi keluarga saya yang baru di Papua dan selanjutnya teman-teman ini yang menjadi sahabat berbagi mimpi, pandangan dan cita-cita. Bahkan tulisan inipun saya dedikasikan terkhusus untuk 3 rekan saya yang hendak studi lanjut: Evy Sihombing, Anugerah Amuneki dan Yunita Mirino..Selamat terbang kawan...dan selamat menemukan cerita-cerita baru...
back to cerita liburan...
Dalam dimensi yang lain saya menikmati keramahan yang tentu saja berbeda di tempat liburan saya. Kali ini sungguh pengalaman yang baru bagi saya untuk berelasi dengan cara living in di keluarga Ibu Sebaru. Hihi menyenangkan...menikmati aneka kuliner original home made khas Indonesia Timur yang amit-amit enaknya..ikan kuah, bubur, sayur mayana, tumis terung, kangkung bunga papaya...alammaaaaaakk...sialannn kapan guee bisa masak seenak itu.
Hari kedua kapal datang. Akhirnya..this is the true adventurous journey...Tepat seperti yang saya bayangkan..saya benar-benar excited dng eksotisme kapal kelas ekonomi...hihi..seruuu...berdesak-desakan...rebutan tempat...plus guyonan-guyonan ala kapal yang lucu-lucu. Tapi tentu saja, saya tidak dibiarkan tidur nyeynyak di kelas ekonomi, akhirnya kami menyewa sebuah kamar ABK..yahhh berkurang deh keasikan berpetualang..meski tetep seru juga...
Yang paling seru tuh waktu di pelabuhan dan membeli jajanan pelabuhan. Ada keladi dan sagu bungkus yang lauknya macam-macam. Waktu kami berlabuh di Serui dan jalan di sekitar Serui, saya membeli sagu bungkus dan bia tumis yang enak bangettttt bikinan mama-mama Serui. Ditambah lagi kami bertemu dengan kerabat yang membuatkan sagu gula jawa uenaakk.. sumpehhh..ternyata enak juga ya kue tradisional ini.
Tetapi pengalaman yang sungguh menyenangkan tidak lain dan tidak bukan adalah percakapan dan komunikasi yang saya lalui dengan setiap orang yang saya jumpai di tempat baru ini. Dengan Ibu kepala keluarga yang membuat saya benar-benar jatuh sayang, saya mendengar banyak cerita tentang sejarah peradaban di Papua, adat, budaya, cara berfikir, cara bersikap seorang manusia yang hidup dalam budaya yang terbentang ribuan mil jauhnya dari tanah peradaban yang membentuk saya. Saya belajar tentang kekerabatan, saling menanggung dan kehidupan komunal khas belahan timur yang hangat. Tapi di satu sisi saya juga belajar tentang sebuah etos kerja dan perjuangan menembus keterbatasan untuk menjadi makhluk yang mampu berdiri diatas kaki sendiri...
Tentu tatanan kebiasaan yang saya lihat banyak yang bersebrangan nilai dengan saya yang lahir dan besar dalam kultur Jawa yang serba introvert dan halus. Tetapi justru disinilah saya bertatap muka langsung dengan kemahakuasaan Sang Pencipta. Saya bukan hanya mendengar tentang kehebatan Tuhan Sang Pencipta, tetapi saya mengalami bagaimana kerumitan rancanganNya membentuk dasar bumi dan menciptakan manusia dalam segala ras. Lepas dari kericuhan sejarah bangsa-bangsa dan pertumpahan darah antar manusia, saya yakin bahwa Tuhan berdaulat atas perjalanan hidup umat manusia. Jadi, daripada saya berkutat dalam emosi-emosi negative saat brbenturan dengan macam-macam karakter dan kebiasaan yang berbeda, maka saya memutuskan untuk belajar berdamai. Meski sulit..tapi belajar berdamai...
Hehe..terimakasih..terimakasih dan terimakasih...pada semua pihak yang memfasilitasi liburan kali ini...
Saya gadis Jawa berumur 30 tahun, single, meninggalkan orang tua, keluarga, sahabat persekutuan yang mengisi dan menjadi bagian sangat penting dalam hidup saya seperti jantung dan daging saya sendiri, asset dan harta kekayaan, karir, kehangatan komunitas, hobby dan segudang aktifitas berkesenian yang menyenangkan di Pulau Jawa... untuk merantau ke Papua. Ada dua mimpi yang ingin saya wujudkan di Tanah perantauan saya: menjadi manusia yang merdeka dan menjadi hamba yang sejati. Saya butuh keberanian. Keberanian melawan arus, keberanian memikul salib dan keberanian meminum cawan yang tidak mungkin berlalu dari hadapan saya sekalipun itu pahit untuk diteguk.
Perjalanan kemarin membuat saya benar-benar memahami bahwa semesta menyimpan sebuah misteri kemurahan yang kadang tidak terduga.
Saya meninggalkan keluarga dan sahabat di Jawa tetapi saya menemukan keluarga baru di Papua (regards to kel.Pak Lumbantoruan dan Bu Hadi yang rumahnya sering saya jajah serta kawan Manado kesayanganku Nyonyah Paat dan tentu saja atasan saya yang baik-baik, Ibu dan Bos).
Jogja seru dan menyenangkan tapi Papua mematangkan saya dalam masa-masa kesepian saya. Teman-teman di Jawa groovy dan hangat tapi adaptasi saya dengan teman-teman di Papua membuat saya ngerti bahwa kedewasaan dan kerendahan hati adalah PR yang harus dikerjakan seumur hidup...(dan gue gag akan lulus sampai matii deh kayaknya...)
Dan pada akhirnya....saya hanya bisa berkata Great is Thy Lord yang sudah membawa saya berjalan sampai sejauh ini....saya menunggu dengan dalam keheningan cerita baru yang akan dibukakanNya untuk saya..berkarya..berkarya dan berkarya..itu keputusan saya....
soooo...slamat jalan Evy, Yunita dan Kak Amukkk...semoga perjalanan kalian juga sama menyenangkannya dengan perjalanan saya disini...the light of life is the grace of painful journey....