Minggu, 08 Desember 2013

natal..pulang sejenak ke rumah..seraya mempersiapkan bekal untuk ziarah baru...

yupp...natal kedua di Papua, masih ingat renungan natal yang saya tulis di wall facebook tahun kemarin?? Nanti akan saya copy paste dibawah postingan ini.

Kali ini, saya menulis tidak dari lembah romantis seperti tahun kemarin yang kebetulan saat itu saya sedang melakukan penelitian di Seged-Papua Barat, kali ini saya menulis di laboratorium Dok 2 di sela-sela masa inckubasi bakteri saya dan sambil mengerjakan laporan tahunan yang kejar tayang..wueekkkk.

Tapi natal tetap harus dimaknai, meskipun ritual-ritual natal klasik dengan setumpuk kegiatan kerohanian dan sederet jadwal silahturahmi sudah lewat dari hidup saya sejak saya berpamitan pada ibu bapak dan keluarga besar untuk memulai hidup menjadi musafir, bahkan dengan bumbu-bumbu penghiburan kalau nanti di tengah perjalanan ternyata saya memutuskan untuk melajang (hehehheheh..teringat peristiwa itu sekitar 4 tahun yang lalu).

Terus terang saya merindukan kegiatan-kegiatan klasik selayaknya orang yang merupakan salah satu bagian dari keluarga. Kumpul, makan bersama, saling memberi hadiah dll. Tapi karena saya sudah memutuskan untuk menulis cerita saya sendiri dengan cara seperti ini...yah mari kita rayakan pilihan ini...

dan ucapkan selamat datng pada natal kali ini Han...

Natal kali ini saya adalah biarawan yang sedang menghitung dosa. 

Mengingat sekian banyak kesalahan fatal yang saya lakukan  tahun-tahun belakangan ini, menimbulkan luka, kekeringan dalam diri saya sendiri, perasaan kosong dan ketidak puasan. Saya merasa terasing dari kehidupan yang puas dan penuh seperti yang pernah saya alami sebelumnya. Saya menyesali kebodohan-kebodohan yang saya lakukan yang membuat saya tercerabut dari kehidupan merdeka dimana sukacita saya tidak bergantung dari apa yang ada diluar tetapi apa yg mengalir dari dalam...itu yang paling saya sesali...addduuuuhhhh...apa yang saya kejar sebenarnya?? Apa yang saya cari sebenarnya?? Perlukah itu semua saya dapatkan jika untuk mendapatkannya saya harus kehilangan diri saya sendiri...
dan dipenghujung tahun saat saya duduk di laboratorium menuliskan ini semua, saya hanya bisa menyesal..menyesal dan menyesal...

Natal kali ini saya adalah si anak hilang yang menuai berkat di pangkuan bapa setelah pengkhianatan saya

Ada berkat yang bisa dituai karena bahkan dalam keterpurukan ada sisi indah kehidupan yang layak dirayakan. Persahabatan yang indah dengan kawan-kawan baru, hubungan yang semakin matang dengan keluarga, kekanak-kanakan yang dibuka dan ditelanjangi didepan mata dan siap untuk diperbaiki. Mujizat orang lain yang saya saksikan dan mujizat yang secara pribadi saya alami...
Tapi berkat terindah tetaplah : kesempatan kedua, pengampunan dan pertumbuhan watak...tidak ada yang melebihi berharganya berkat itu bagi saya....
Saya menuainya setelah sekian banyak badai muncul dan mereda dalam hidup saya akhir-akhir ini. 
Saya berharap terus menuai berkat, dan ini daftar berkat yang ingin saya tuai dimasa-masa mendatang : Kasih pada sesama yang semakin besar, jiwa yang semakin tenang dan tidak meledak-ledak, pikiran yang semakin tajam dalam menimbang dan memutuskan, dan hati yang semakin lapang menerima segala bentuk perlakuan tanpa merusak bangunan baik yang sudah dikaruniakan semesta dalam jiwa saya.

Natal kali ini saya adalah Kaleb yang sedang menagih janji

Saatnya saya hendak menagih janji: Janji apa???
Tanah perjanjian. Dimana saya tinggal dan menjadi saluran berkat untuk orang lain. Tentu bukan tanah dalam arti harafiah. Sebuah proyek sedang saya khayalkan, dan ingin saya realisasikan. Proyek yang sering saya bagi dengan sahabat-sahabat menelanjangi malam dan menghitung bintang. Proyek yang proposalnya saya pahat dalam  loh-loh hati saya dan selalu saya pertaruhkan dengan lutut saya pada masa-masa hening saya. Saya adalah Kaleb yang berdiri didepan Yosua dan menagih sebuah tanah warisan perjanjian.

Natal inilah masa penyaliban saya

Inilah ziarah besar yang ingin saya lakukan selanjutnya. Rute saya kali ini adalah perjalanan batiniah seperti yang dilakukan si Lalita. Masuk kedalam, mengobok-obok dan membongkar semua kedagingan.
Dan saya ingin menyalibkan diri saya. Mati. Tak tercatat lagi oleh dunia. Tak diingat lagi oleh sejarah.


Hingga saya mencapai apa yang disebut AXIS MUNDI. 


Berharap dengan begini saya mengalami apa yang disebut remuknya insan lahiriah dan terbitnya insan batiniah
Berharap dengan begini saya menikmati kepuasan sejati, yang tidak ditentukan dari apa yang ada di luar tetapi apa yang mengalir dari dalam.
Sekalipun kondisi-kondisi tidak nyaman dan serba kurang tapi manusia batiniah saya bisa tunduk dan berespon dengan tenang. 
Dalam segala kesesakan, saya tidak kehilangan sukacita saya, saya tetap bisa melayani orang lain dan saya tetap bisa mengerjakan bagian saya dengan kualitas unggul bukan untuk mencari hormat di bumi tetapi mencari harta di dimensi keabadian..zaman yang tidak lagi dihitung dengan satuan detik, menit dan jam... itulah kekekalan.

Entah bagaimana caranya daging dan tulang belulang yang reot dimakan kesombongan, keegoisan dan sifat tinggi hati dalam diri saya,,bisa melawan hukum fisika dan membuahkan manusia batiniah dalam tataran makrifat...hihihi entahlah..mungkin butuh sebuah kekuatan adikodrati..pasti..kekuatan yang adikodrati...

Tapi saya ingin mencapainya..bukan seolah-olah saya sudah mendapatkanya...tetapi ini yang ingin saya lakukan..melupakan apa yang ada dibelakang saya dan berlari-lari mencapai apa yang ada didepan saya..panggilan yang mulia (saduran bebas dari surat Paulus).

selamat natal Hana...namamu Hana mengandung sejumlah doa...bahwa sekian banyak hal telah merusak hal-hal yang baik dalam dirimu...percaya saja bahwa penciptamu tidak pernah kekurangan kasih karunia yang menuntunmu ke jalan pulang saat kau tersesat dan tak tahu arah pulang..

Natal..pulanglah sejenak ke rumahmu..seraya mempersiapkan bekal untuk ziarahmu yang baru...





Di Danau Infote by Ilambra (www.ilambra.blogspot.com)

NATAL, CINTA DAN LUKA (reposting cacatan natal 2012 from Papua Barat)

Ini janji saya...meposting ulang catatan natal 2012


NATAL, CINTA DAN LUKA
(A part of my trip journal..)

Berada di sebuah titik di Indonesia Timur, kampung pesisir namanya Seged, tepatnya 3 jam dari kota Sorong Papua Barat. Disana tinggal kelompok masyarakat Suku Moi Lamas. Pekerjaan mereka adalah petani sagu dan nelayan. Kampungnya kecil, pantainya indah dan yang paling menakjubkan adalah warna senjanya yang selalu tembaga emas meskipun sebelumnya tersiram hujan.

Saya sering duduk di pinggir pantai dengan wajah melankolis dan mata berkaca-kaca (wueeekkkk...). Mata berkaca-kaca selalu lebih menusuk daripada air mata yang beneran jatuh seperti kalo saya lagi mewek lebay. Yang paling sering membuat mata berkaca-kaca adalah lagu-lagu natal yang diputar sangat kenceng pake speaker kampung dan diputar setiap sore karena listrik diesel hanya sanggup menyala selama 3 jam. Mirip banget suasana Desa saya di wonogiri kalau ada acara nikahan.

Kembali ke lagu natal di kampung Suku Moi....Ah Natal..saya mulai mengalami kesulitan memungut kenangan-kenangan saya tentang natal yang indah. Tetapi tidak semua melayang hilang dari simpanan memori : Ibu saya yang selalu panik setiap natal dan menyuruh Mbak Saniem (tetangga yang pintar memasak) untuk membuat opor dan sup, Bapak lebih sibuk ngurus natal di gereja dan selalu menelepon dengan nada kesal kalau setiap tanggal 24 Desember malam saya masih berkutat dengan pekerjaan saya di Jogja. Lalu kehangatan teman-teman saya di PSKS (Mb Vana, M.Sinta, M.Dian, M.Yuyun, Dewi,Aji, Imen, Santi, Kandi, Bu Uc dan M.Indah) yang selalu ngajak angkringan, keluarga saya di Desa Wonogiri yang ribut reunian pas natalan. Gerna, Adhe, Mas Danang dan Nanda yang preman tapi tidak pernah melewatkan ucapan natal. Teman-teman di gereja yang sibuk luar biasa setiap natal tiba. Semua kenangan kehangatan berbaur dengan lagu natal di kampung Moi tambah pantai dan senja yang indah..jadilah saya melo plus lebay dot com.

Tetapi menggali lebih dalam tentang natal...saya semakin tercengang dengan betapa jauhnya perjalanan yang sudah saya tempuh. Kesakitan, kehilangan dan perdebatan saya dengan Tuhan di masa-masa hening saya membuat saya merasa seperti gadis kecil yang merindukan jalan pulang. Natal tentu saja sudah berevolusi sedemikian rupa dalam hidup saya. Sensasi kehangatan natal klasik samar-samar kabur seiring semakin jauhnya pengembaraan saya, semakin banyaknya kehilangan dan rasa sakit yang saya saksikan disekeliling. Tapi saya sadar bahwa saya tidak akan pernah kehilangan esensi natal.

Dalam pemahaman saya saat ini Natal adalah perayaan persiapan penderitaan yang maha dahsyat dari pribadi yang saya sembah. Merelakan tahtaNya di surga dan hadir sebagai manusia biasa, menjalani kehidupan dalam kemiskinan, dipermalukan, diperolok sampai akhirnya mati sebagai narapidana rendah di kayu salib. Atas nama cinta. Dan cinta yang penuh luka…jangan pernah bicara cinta jika tidak sanggup menanggung luka..surga saksinya, palungan buktinya dan kayu salib adalah karya yang menyempurnakan cinta Sang Pencipta pada umat manusia. Natal adalah momen penuh cinta..iya saya sepakat…..tapi cinta bukanlah cinta tanpa kesanggupan menaggung luka….Tuhan sedemikian mencintai saya hingga terluka…
Maka perenungan natal saya tahun ini: sanggupkah saya mencintai hingga terluka? Sanggupkah saya terluka untuk pribadi-pribadi yang saya cintai??

Tentu saja saya terlalu pengecut untuk memberi jawaban Ya pada pertanyaan ini…bahkan untuk menjawab ‘ya, saya akan mencoba’ pun saya sungguh tak punya nyali…
Entahlah….

SELAMAT MEMPERSIAPKAN NATAL….MOMEN YANG PENUH CINTA…

Sabtu, 19 Oktober 2013

the resurrection of sleeping desire.....

busyetttt judulnya kagak kuaatttt..

Tapi inilah yang sedang saya timang-timang dalam jiwa saya...
cling...ditengah kelelahan bak sudah bekerja ratusan abad...saya lemas bukan main setiap kali melihat daftar panjang hutang pekerjaan saya..hadeehhhh...

Memasuki ruang kerja, melihat tumpukan perangkat-perangkat lab, timbunan sampel darah, email-email peringatan dari pembimbing paper dll..entahlah rasanya ingin mati muda...
Kucari dan kucoba kucari..sebuah roh yang bernama semangat..dimana-mana..

 di film favorit..di novel..sampai pinjam serial favorit milik atasan saya supaya passion saya muncul...dan wuuuzzz semangat bagai menghilang ditelan bumi...

Tapi hari ini tiba-tiba saya terbangun dengan semangat ingin menuntaskan hutang saya...apa sebabnya?? sebuah mimpi...beginilah ceritanya:

Semalam saya bermimpi..
sepasang malaikat membangunkan saya yang tidur lelap dalam pelukan seorang kekasih..
kekasih tak berwajah dan bernama..jadi jangan coba bertanya siapa dia
sepasang malaikat lantas menghembuskan titah pada kekasih saya..
dia memintanya bangun, duduk di meja tulis, mengambil kertas dan pena..
dan yang mengagetkan,,, sepasang malaikat menyuruh kekasih saya menuliskan sebuah berita duka cita karena besok pagi saya..ya saya akan mati..tamat..menyelesaikan perjalanan saya..menutup buku cerita saya...

dengan bergetar dan mata berlinang kekasih saya menuliskan kata-kata dukacitanya...
beginilah dia tulis :

telah berpulang dengan wajah sukacita..kekasih saya, istri saya, ibu anak-anak saya, sahabat saya yang paling keras kepala, teman perjalanan saya yang tidak mudah menyerah, pasangan jiwa saya yang selalu rela berkorban..
dia telah menyelesaikan tugasnya sebagai istri yang setia bagi saya dan ibu yang bijaksana untuk anak-anak saya...
dia meninggalkan warisan kasih sayang bagi keluarga besar dan menjadi panutan bagi orang-orang disekitarnya...
sebagai pegawai yang mengabdikan diri untuk negara, saya tahu bahwa dia telah bekerja dengan sepenuh hati dan selalu mengejar keunggulan dengan semangat yang tinggi...
dia tidak mudah menyerah, selalu bergairah, dan suka membagi ilmu yang dia punya..
sebagai warga masayarakat saya tahu bahwa dia, kekasih saya, selalu peduli dengan kesusahan sesama, ringan hati dalam menolong yang berkesusahan dan tulus dalam bersahabat..
namun demikian saya tahu bahwa, dia manusia yang tidak luput dari kekurangan..
untuk hal ini, saya meminta maaf atas kekurangan atau luka-luka yang telah dia timbulkan selama hidupnya...


waikkkkkk.....busyettt apakah itu saya??? tidaaakkkkk!!!!!
dan terbangunlah saya...
keringat dimana-mana...mata bengkak2 karena mewek...hadeeehhhh,,,,
enatah apa yang membuat saya menangis..tapi pastinya adalah kata-kata dukacita yang samar-samar saya ingat di mimpi saya...jelas itu bukan saya..jauuuhhh...jauuuhhh sekali dari gambaran pribadi saya yang sedang lemah letoy kering inspirasi....

tapi akhirnay saya sendiri sadar..bahwa hari itu bisa datang kapan saja..dan saya tidak mau berhutang..berhutang pekerjaan pada kantor (wuekk..) tapi terutama berhutang maaf pada orang-orang yang telah terluka karena saya...


akhirnya saya merasa bahwa hari ini matahari khusus terbit untuk saya..hanya untuk saya....

ayo membayar hutang....






                                     bakteri-bakteriku....                                                       


                                     sampel-sampel darah yang harus diolah



                                     tempat berkarya...

tectona grandis...tunjukkan nyalimu pada angin yang bergaung menjadi badai!!!!!

Sabtu, 28 September 2013

namaku di akhir kata...

wajah yang tinggal samar dan memudar...
sedang berlutut saat pergi kutinggalkan..
sedang berlutut saat aku datang dari kembara panjang...
lalu kudengar bisk lirih sepenggal nafas...
'Tuhan kugedor pintu surgamu..kupinta belas rahmatmu..untuknya'
dan namaku disebut diakhir kata...

Sabtu, 07 September 2013

heart..love..cross


aku bukan cenayang..
tapi ingin kuterawang garis tanganmu..
dan kutelanjangi nasibmu..
lalu kubelokkan jalanmu menuju gelimang maha dahsyat semesta

wahai kekasihku sayang...


aku elang yg melayang di gugusan awan-awan..
sontak menukik dan melesat seperti anak panah
di tangan ksatria dalam cerita wayang jawa

aku ingin lantang bicara cinta didepanamu..
dan pinanganku bukan sebentuk mutu manikam..
kutebus engkau dari rahim ibumu
dengan ikatan darah dan jiwa..
satu-satunya kepunyaanku 

wahai permata kesayangan mahadewa...
jadilah mempelaiku...


ssstttt....jangan salah taruh kira..kata orang Manado...artinya jangan salah sangka.

Saya tidak sedang bicara cinta yang menjadi obrolan galau di akun-akun twiter atau facebook atau BB, meski jujur saya bukan manusia yang kebal dengan bentuk emosi itu. CINTA. hehe...Saya sedang jatuh cinta???? hohohoho entahlah...teman-teman sekantor saya yang dominan adalah para single nyaris expired biasanya menohok dengan kata-kata yang lebih egaliter dan pedas : kamu su mati kawin kah?? (red.kamu sudah pengen buru-buru kawin ya??)...hehehe..entahlah..membicarakan 'cinta' yang itu rasanya terlalu agung.

Bagi saya itu adalah konsumsi hati nurani. Ruang tertutup yang mengurung saya pada dunia saya yang enggan saya bagi. Penampilan bisa menipu. Perkataan kadang-kadang sudah tercemari dusta. Tapi siapa yang sanggup mengelabuhi hati nurani? Bahwa akhirnya saya hendak berlari mengikuti hati nurani saya ataupun menutup telinga rapat-rapat pada teriakan hati nurani saya, itu adalah pilihan saya sebagai anak manusia. Untung-rugi, baik-buruk, bahaya - aman..nah pada akhirnya hati nurani yang terletak di ruang paling dalam harus menembus satu ruang yang bernama : RUANG PERTIMBNGAN, ranah keputusan atau zona pilihan. Makanya mending jangan ngomongin 'cinta' yang itu di ranah public wkwkwkwkkw

Kembali lagi pada urusan cinta yang menggerakkan saya untuk menulis puisi diatas.

Bukan cinta yang bikin galau abg-abg zamana sekarang..
Bahkan saya tidak menyoal cinta di puisi saya meskipun saya merepresentasikan dengan lima huruf :
 'c' 'i' 'n' 't' 'a'

SAYA SEDANG BICARA TENTANG SALIB...
Saya tidak mempunyai simbol lain yang lebih sempurna menggambarkan cinta selain Salib...
mencintai artinya memikul salib...menanggung penderitaan untuk orang lain.

Pertanyaannya: sanggupkah?


btw ini jepretan Melda Suebu di Danau Infote Jayapura, danau berbentuk cinta.
Foto-foto keren plus tulisan perjalanan sekelompok anak muda di Danau Infote bisa di akses di link berikut ini:http://ilambra.blogspot.com/


                            Telaga Hati INFOTE Jayapura by Melda Suebu






Jumat, 23 Agustus 2013

the light of life is the grace of painful journey....

Aduuhhhh nyesek banget gara-gara kamera digital (yang harganya murah....) ketinggalana di Jogja waktu perjalanan sebelum lebaran kemarin...Padahal ada banyak moment memikat yang tertangkap indra hiks....Haduuhh...cita-cita untuk menjadi blogger sejati dengan kualitas tulisan semakin 'mencerahkan' dan kualitas jepretan semakin aduhaiii jadi agak-agak bikin pesimis...

Tapi baiklah...fotografi..seperti namanya, adalah sebuah tool untuk membekukan setiap moment visual berbasis cahaya..membingkainya menjadi wordless poem yang berbentuk gambar...asupan indra penglihat...

tentu saja dalam setiap moment ada yang lebih merasuk kedalam daripada gelombang cahaya yang diejawantahkan dalam bentuk susunan pixel kamera (hiks..kata-kata penghiburan karena nyesel gag dapat foto keren)..itu adalah 'the meaning of the journey...the learning of the adventures and the changes of human being'.....

Liburan kemarin saya betul-betul menjalankan niat nekat saya untuk melakukan perjalanan ke Papua Barat. Meskipun tidak seutuhnya angan-angan saya berhasil terwujud, tapi yaahhhh lumayanlah saya tetap menikmati perjalanan kemarin karena ada hal-hal tak terduga yang saya dapatkan. Itulah sebabnya saya selalu senang dengan istilah 'serendipity'....Kalo dalam terjemahan leksikalnya serendipity berarti : Finding something while looking for the other thing...

Pertama, rencana untuk naik kapal dari Jayapura sendiri gagal karena ternyata dapat tiket pesawat murah dari agen perjalanan seorang kawan hehehehehehehehhe...horeee!!!!! Nah karena kepastian tiket begitu mendadak maka tentu saja packing serba tergesa-gesa. Dengan uang di dompet yang mepet, berangkatlah saya ke Manokwari, meski sebenarnya rencana awal mau ke Sorong, gara-gara tiket murah dan pengen ketemu mantan kakak kelas di TN Teluk Cendrawasih ya okelahhh.... Manokwari I'm cominnnnn..

Sampai di Manokwari..langsung menghubungi kakak terbaik dan terkeren yang saya temukan di Papua pada tahun-tahun pertama perantauan saya. Nah lalu beliau inilah yang memfasilitasi liburan asik kali ini wkwk...

Selama di Manokwari saya benar-benar menikmati kehangatan sahabat-sahabat baru di belahan Papua yang lain.

Satu tahun pertama saya menjalani masa-masa penyesuaian di Jayapura. Membangun relasi dengan rekan-rekan sekantor yang merupakan komunitas tunggal bagi saya di Papua. Teman-teman kantor ini bukan hanya sekedar teman kerja tetapi pada akhirnya menjadi keluarga saya yang baru di Papua dan selanjutnya teman-teman ini yang menjadi sahabat berbagi mimpi, pandangan dan cita-cita. Bahkan tulisan inipun saya dedikasikan terkhusus untuk 3 rekan saya yang hendak studi lanjut: Evy Sihombing, Anugerah Amuneki dan Yunita Mirino..Selamat terbang kawan...dan selamat menemukan cerita-cerita baru...

back to cerita liburan...

Dalam dimensi yang lain saya menikmati keramahan yang tentu saja berbeda di tempat liburan saya. Kali ini sungguh pengalaman yang baru bagi saya untuk berelasi dengan cara living in di keluarga Ibu Sebaru. Hihi menyenangkan...menikmati aneka kuliner original home made khas Indonesia Timur yang amit-amit enaknya..ikan kuah, bubur, sayur mayana, tumis terung, kangkung bunga papaya...alammaaaaaakk...sialannn kapan guee bisa masak seenak itu.

Hari kedua kapal datang. Akhirnya..this is the true adventurous journey...Tepat seperti yang saya bayangkan..saya benar-benar excited dng eksotisme kapal kelas ekonomi...hihi..seruuu...berdesak-desakan...rebutan tempat...plus guyonan-guyonan ala kapal yang lucu-lucu. Tapi tentu saja, saya tidak dibiarkan tidur nyeynyak di kelas ekonomi, akhirnya kami menyewa sebuah kamar ABK..yahhh berkurang deh keasikan berpetualang..meski tetep seru juga...

Yang paling seru tuh waktu di pelabuhan dan membeli jajanan pelabuhan. Ada keladi dan sagu bungkus yang lauknya macam-macam. Waktu kami berlabuh di Serui dan jalan di sekitar Serui, saya membeli sagu bungkus dan bia tumis yang enak bangettttt bikinan mama-mama Serui. Ditambah lagi kami bertemu dengan kerabat yang membuatkan sagu gula jawa uenaakk.. sumpehhh..ternyata enak juga ya kue tradisional ini.


Tetapi pengalaman yang sungguh menyenangkan tidak lain dan tidak bukan adalah percakapan dan komunikasi yang saya lalui dengan setiap orang yang saya jumpai di tempat baru ini. Dengan Ibu kepala keluarga yang membuat saya benar-benar jatuh sayang, saya mendengar banyak cerita tentang sejarah peradaban di Papua, adat, budaya, cara berfikir, cara bersikap seorang manusia yang hidup dalam budaya yang terbentang ribuan mil jauhnya dari tanah peradaban yang membentuk saya. Saya belajar tentang kekerabatan, saling menanggung dan kehidupan komunal khas belahan timur yang hangat. Tapi di satu sisi saya juga belajar tentang sebuah etos kerja dan perjuangan menembus keterbatasan untuk menjadi makhluk yang mampu berdiri diatas kaki sendiri...

Tentu tatanan kebiasaan yang saya lihat banyak yang bersebrangan nilai dengan saya yang lahir dan besar dalam kultur Jawa yang serba introvert dan halus. Tetapi justru disinilah saya bertatap muka langsung dengan kemahakuasaan Sang Pencipta. Saya bukan hanya mendengar tentang kehebatan Tuhan Sang Pencipta, tetapi saya mengalami bagaimana kerumitan rancanganNya membentuk dasar bumi dan menciptakan manusia dalam segala ras. Lepas dari kericuhan sejarah bangsa-bangsa dan pertumpahan darah antar manusia, saya yakin bahwa Tuhan berdaulat atas perjalanan hidup umat manusia. Jadi, daripada saya berkutat dalam emosi-emosi negative saat brbenturan dengan macam-macam karakter dan kebiasaan yang berbeda, maka saya memutuskan untuk belajar berdamai. Meski sulit..tapi belajar berdamai...


Hehe..terimakasih..terimakasih dan terimakasih...pada semua pihak yang memfasilitasi liburan kali ini...

Saya gadis Jawa berumur 30 tahun, single, meninggalkan orang tua, keluarga, sahabat persekutuan yang mengisi dan menjadi bagian sangat penting dalam hidup saya seperti jantung dan daging saya sendiri, asset dan harta kekayaan, karir, kehangatan komunitas, hobby dan segudang aktifitas berkesenian yang menyenangkan di Pulau Jawa... untuk merantau ke Papua. Ada dua mimpi yang ingin saya wujudkan di Tanah perantauan saya: menjadi manusia yang merdeka dan menjadi hamba yang sejati. Saya butuh keberanian. Keberanian melawan arus, keberanian memikul salib dan keberanian meminum cawan yang tidak mungkin berlalu dari hadapan saya sekalipun itu pahit untuk diteguk.

Perjalanan kemarin membuat saya benar-benar memahami bahwa semesta menyimpan sebuah misteri kemurahan yang kadang tidak terduga.

Saya meninggalkan keluarga dan sahabat di Jawa tetapi saya menemukan keluarga baru di Papua (regards to kel.Pak Lumbantoruan dan Bu Hadi yang rumahnya sering saya jajah serta kawan Manado kesayanganku Nyonyah Paat dan tentu saja atasan saya yang baik-baik, Ibu dan Bos).
Jogja seru dan menyenangkan tapi Papua mematangkan saya dalam masa-masa kesepian saya. Teman-teman di Jawa groovy dan hangat tapi adaptasi saya dengan teman-teman di Papua membuat saya ngerti bahwa kedewasaan dan kerendahan hati adalah PR yang harus dikerjakan seumur hidup...(dan gue gag akan lulus sampai matii deh kayaknya...)

Dan pada akhirnya....saya hanya bisa berkata Great is Thy Lord yang sudah membawa saya berjalan sampai sejauh ini....saya menunggu dengan dalam keheningan cerita baru yang akan dibukakanNya untuk saya..berkarya..berkarya dan berkarya..itu keputusan saya....

soooo...slamat jalan Evy, Yunita dan Kak Amukkk...semoga perjalanan kalian juga sama menyenangkannya dengan perjalanan saya disini...the light of life is the grace of painful journey....

Rabu, 10 Juli 2013

menata perjalanan...

hehe...

Dalam arti yang sesungguhnya saya sedang sangat excited dengan rencana saya bepergian libur lebaran besok. Selama satu setengah tahun di Papua baru kali ini saya akan bepergian tanpa biaya dinas wkwkkk...biasanya bepergian selalu dalam urusan penelitian. Kali ini TIDAK.

Dalam benak saya, saya sudah membayangkan saya bercelana jins dan sendal gunung, menyandang ransel dan berdesakan mengantri tiket kapal kelas ekonomi. Lalu saya akan menghabiskan sekitar 2 malam di tengah laut menikmati laut Papua, berkenalan dengan orang-orang di perjalanan, melihat segala bentuk perilaku. Saya sudah membayangkan ketegangan-ketegangan kecil karena membawa uang yang tidak terlalu banyak, lalu mencari tempat makan yang paling murah dan menginap di rumah kerabat. Meskipun dalam perjalanan ini saya juga bermaksud mencari data untuk urusan kerjaan heheheheh (teteeeppp...).

Kadang melakukan perjalanan tanpa tahu apa yang akan terjadi di depan menjadi sesuatu yang menarik bagi saya. Saya berencana ke Manokwari lalu lanjut ke sorong dan Serui. Belum tahu bagaimana nasib saya di ketiga tempat tersebut..meski di setiap tempat sudah ada kerabat yang menunggu. yahhh kita lihat saja...

Dalam perenungan saya yang lebih dalam (cieee...)....saya kembali mengingat pilihan-pilihan hidup yang saya buat. MENATA PERJALANAN. Bagaimana saya menata perjalanan hidup saya selama ini??? hahahaha...jawabannya adalah saya hanya meletakkan dengan penuh penyerahan pilihan-pilihan hidup yang sudah saya buat...dan pada saat saya membuat pilihan, saya hanya menjaga supaya apapun pilihan yang saya buat, hati saya hanya memilki maksud tunggal didalamnya yaitu saya ingin menyenangkan hati pencipta saya.
Saya tidak tahu bagaimana akhir perjalanan hidup saya bahkan saya tidak tahu apa yang akan terjadi dua detik ke depan....saya hanya bisa membuat pilihan-pilihan dan hidup dalam pilihan-pilihan tersebut.

Kalaupun saya salah membuat pilihan..paling tidak saya ingin memastikan bahwa sampai di garis akhir hidup saya, hati saya hanya memilki satu maksud tunggal...menyenangkan hati pencipta saya...

                                jalan panjang seakan tak berujung menuju perbatasan RI di Kampung Sota- Mearauke


Kamis, 09 Mei 2013

this is my Tectona grandis..may this would be ur Tectona grandis...

mengapa Tectona grandis...

he he...sabar...sebelumnya akan saya jelaskan dulu mengapa saya memutuskan untuk nge-blog..padahal setelah bertahun-tahun saya membiarkan tulisan-tulisan saya yang masih dibawah standar keren tersebar dimana-mana, mulai dari di buku hand out kuliah, di komputer kantor lama, di labtop teman..untung gag di daun lontar...

this blog is my decision to move on the new planet...

Itu alasannya...saya ingin mengekspansi planet baru dimana penghuninya hanyalah saya, inspirasi dan setiap makhluk yang ingin berkelana ke alam saya. Silakan datang ke planet ini. Anda boleh datang dengan kebohongan ataupun telanjang. Itu keputusan Anda...tetapi sebagai pemilik planet ini saya akan menaruh hormat pada mereka yang datang dengan orisinilitas kemanusiaan...keotentikan..natural..jujur..telanjang...

Nah sekarang...Mengapa Tectona grandis....nama latin dari sebuah tanaman yang sangat mengaggumkan...

Saya mengenal istilah Tectona grandis semasa SMP....tetapi saya kenal dengan pohon jati sejak masa kecil saya...Apa yang menarik??

Jati : keras, cantik, memikat, tahan lama, mahal, hidup di tanah yang cenderung miskin air, cadas, panas...

Untuk menjadi sebuah kayu yang tangguh dibutuhkan waktu bertahun-tahun tak jarang memakan waktu puluhan tahun....

Tetapi yang paling saya suka adalah caranya beradaptasi..ilmu pengetahuan mengenal 3 jenis adaptasi. Adaptasi morfologis, fisiologis dan behavioral. Jati melakukan adaptasi behavioral yaitu dengan meranggas saat berada pada cekaman kekeringan dan suhu tinggi, mekanisme ini diatur secara hormonal oleh hormon yang bernama Asam Absisat. Dia merontokkan daunnya. Kering dan dianggap mati. Hanya tertinggal batang dan ranting yang seakan tak bernyawa karena absen kesegaran hijau daun. Tapi dengan begitu dia bertahan melawan kejamnya musim kemarau...dan terbit sebagai pemenang seleksi alam...., 

Jati berbiji keras....banyak usaha untuk melunakkan bijinya supaya bisa ditanam dengan mudah. Untuk melunakkan biji para botanis melakukan perendaman, penggosokan dengan permukaan keras, kadang disiram dengan asam. Supaya jati bisa dibudidaya dengan cepat. Biji yang sudah lunak kulitnya akan meninggalkan masa dormansi dan akan memasuki masa perkecambahan.

Aku ingin seperti jati..yang tetap tegar dalam cekaman kekeringan, biarpun dengan rendah hati harus merontokkan bagian tubuhku..tapi pada akhirnya bertahan dalam seleksi alam...biar dunia menganggap layu dan mati...tapi didalamku aku  berproses..memebelah, memanjang, menebal...dan terciptalah kayu yang menjadi pujaan para pengukir....

Aku ingin seperti jati...menyerah pada setiap proses alam yang merontokkan kulit-kulit biji sehingga aku bisa tumbuh..berkecambah..Tidak ada pembentukkan yang nihil rasa sakit...aku ingin sperti biji jati...aku sadar betapa aku bercangkang keras..dan harus dilunakkan oleh ketegasan musim yang akhirnya menelanjangi setiap kekerasan, keangkuhan, kekanak-kanakan..terus dan terus..hingga aku menjadi si Tectona grandis...