Jumat, 18 April 2014

nyanyian berkabung seorang perempuan tua di Yerusalem...

aku melayangka mataku ke awan-awan...
darimanakah datangnya pertolonganku....

kurapal doa ayahku Daud ratusan kali sejak fajar merekah dini hari,...
hingga siang menerbangkan debu-debu jalanan sunyi Yerusalem...


aku melayangka mataku ke awan-awan...
darimanakah datangnya pertolonganku...

Kurapal doa ayahku Daud ratusan kali..
sambil menahan sekapan duka menikam dada...
sambil menahan sisa-sisa air mata yang hampir mengering kemarin..

aku melayangka mataku ke awan-awan...
darimanakah datangnya pertolonganku...

kurapal doa ayahku Daud ratusan kali
darimanakah datang pertolonganku ya Tuhan...
pertolongan untuk seorang wanita tua renta..
ibu sang narapidana bangsa pilihanmu...
dia diolok-olok oleh mulut yang sebelumnya bersorak-sorai mneyerukan sambutan 'glori..glori sang raja salam'
dia disiksa, dilukai oleh tangan-tangan yang sebelumnya mengangkat daun-daun palem memuliakan kehadirannya di atas keledai...
dia dikhianati oleh kekasih yang makan, minum dan tidur dengannya...
dia dibiarkan sendiri..menanggung nyeri,perih daging yang terbuka ke udara oleh lecutan cambuk dan tsuskan besi-besi tajam...bukan oleh orang lain..tapi olehku...
olehku ya olehku...ibunya yang tua renta..yang tak sanggup berbuat apa-apa selain mengikutinya terseok-seok dijalanan berdebu penuh kerikil bukit tengkorak...

aku melayangka mataku ke awan-awan...
darimanakah datangnya pertolonganku...
jika harus kulewati sabat tersunyi dengan kenangan pedih kematian anak sulung kebanggaanku...

ya elohim yang rahmani...
apakah engkau sudah melupakan aku...
aku perawan miskin yang kepadanya kau utus malaikatmu

apakah Engkau sudah melupakan aku...
aku perawan miskin yang kepadanya kau wartakan kabar sukacita kedatangan mesias untuk bangsaku..
apakah Engkau sudah melupakan aku...
aku perawan miskin yang kepadanya kau titipkan beinih ilahi..anak nubuatan..sang raja kekal..
meskipun aku sendiri buakanlah siapa-siapa dan hanya seorang hamba..
apakah Engkau sudah melupakan aku...
aku perawan miskin yang tak sanggup menahan sukacita hingga mulutku tak henti-henti berkata
'JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN DAN HATIKU BERGEMBIRA KARENA ALLAH JURUSLAMTKU'
33 tahun yang lalu..
apakah Engkau sudah melupakan aku...

lihatlah aku ya elohim dan rahmani..
aku lemah dan hampir kalah...
tak kupedulikan cibiran dunia karena anakku adalah si gila yang dianggap menghujat Allah dengan mangatakan bahwa dirinya mesias...
tak kupedulikan ancaman penguasa, intimidasi ahli-ahli taurat dan para pemuka agama tentang sepak terjang anak lelakiku..
aku menghadapinya, aku menemaninya..aku sahabat anakku menempuh garis takdirnya..

tapi kini aku hampir kalah dan menyerah..
aku sanggup menghadapi cibiran dunia..
tapi aku dihantam kalah oleh rasa kehilangan..
aku sanggup menghadapi intimidasi ataupun pengucilan oleh kaumku sendiri..
tapi aku tak menyerah pada dukacita kematiannya..

tak bisa tidak...kucemari sabath yg harus kusucikan dengan teriakan yang sama seperti lirih rintihan putraku di kalvari : Eloi eloi lama sabhaktani...


aku melayangka mataku ke awan-awan...
darimanakah datangnya pertolonganku...

dalam abu dan kain kabung..
tetap kusimpan pengharapan..
nubuatmu tak pernah gagal..
temani aku ya Elohim...