Kamis, 09 Mei 2013

this is my Tectona grandis..may this would be ur Tectona grandis...

mengapa Tectona grandis...

he he...sabar...sebelumnya akan saya jelaskan dulu mengapa saya memutuskan untuk nge-blog..padahal setelah bertahun-tahun saya membiarkan tulisan-tulisan saya yang masih dibawah standar keren tersebar dimana-mana, mulai dari di buku hand out kuliah, di komputer kantor lama, di labtop teman..untung gag di daun lontar...

this blog is my decision to move on the new planet...

Itu alasannya...saya ingin mengekspansi planet baru dimana penghuninya hanyalah saya, inspirasi dan setiap makhluk yang ingin berkelana ke alam saya. Silakan datang ke planet ini. Anda boleh datang dengan kebohongan ataupun telanjang. Itu keputusan Anda...tetapi sebagai pemilik planet ini saya akan menaruh hormat pada mereka yang datang dengan orisinilitas kemanusiaan...keotentikan..natural..jujur..telanjang...

Nah sekarang...Mengapa Tectona grandis....nama latin dari sebuah tanaman yang sangat mengaggumkan...

Saya mengenal istilah Tectona grandis semasa SMP....tetapi saya kenal dengan pohon jati sejak masa kecil saya...Apa yang menarik??

Jati : keras, cantik, memikat, tahan lama, mahal, hidup di tanah yang cenderung miskin air, cadas, panas...

Untuk menjadi sebuah kayu yang tangguh dibutuhkan waktu bertahun-tahun tak jarang memakan waktu puluhan tahun....

Tetapi yang paling saya suka adalah caranya beradaptasi..ilmu pengetahuan mengenal 3 jenis adaptasi. Adaptasi morfologis, fisiologis dan behavioral. Jati melakukan adaptasi behavioral yaitu dengan meranggas saat berada pada cekaman kekeringan dan suhu tinggi, mekanisme ini diatur secara hormonal oleh hormon yang bernama Asam Absisat. Dia merontokkan daunnya. Kering dan dianggap mati. Hanya tertinggal batang dan ranting yang seakan tak bernyawa karena absen kesegaran hijau daun. Tapi dengan begitu dia bertahan melawan kejamnya musim kemarau...dan terbit sebagai pemenang seleksi alam...., 

Jati berbiji keras....banyak usaha untuk melunakkan bijinya supaya bisa ditanam dengan mudah. Untuk melunakkan biji para botanis melakukan perendaman, penggosokan dengan permukaan keras, kadang disiram dengan asam. Supaya jati bisa dibudidaya dengan cepat. Biji yang sudah lunak kulitnya akan meninggalkan masa dormansi dan akan memasuki masa perkecambahan.

Aku ingin seperti jati..yang tetap tegar dalam cekaman kekeringan, biarpun dengan rendah hati harus merontokkan bagian tubuhku..tapi pada akhirnya bertahan dalam seleksi alam...biar dunia menganggap layu dan mati...tapi didalamku aku  berproses..memebelah, memanjang, menebal...dan terciptalah kayu yang menjadi pujaan para pengukir....

Aku ingin seperti jati...menyerah pada setiap proses alam yang merontokkan kulit-kulit biji sehingga aku bisa tumbuh..berkecambah..Tidak ada pembentukkan yang nihil rasa sakit...aku ingin sperti biji jati...aku sadar betapa aku bercangkang keras..dan harus dilunakkan oleh ketegasan musim yang akhirnya menelanjangi setiap kekerasan, keangkuhan, kekanak-kanakan..terus dan terus..hingga aku menjadi si Tectona grandis...