Minggu, 08 Desember 2013

natal..pulang sejenak ke rumah..seraya mempersiapkan bekal untuk ziarah baru...

yupp...natal kedua di Papua, masih ingat renungan natal yang saya tulis di wall facebook tahun kemarin?? Nanti akan saya copy paste dibawah postingan ini.

Kali ini, saya menulis tidak dari lembah romantis seperti tahun kemarin yang kebetulan saat itu saya sedang melakukan penelitian di Seged-Papua Barat, kali ini saya menulis di laboratorium Dok 2 di sela-sela masa inckubasi bakteri saya dan sambil mengerjakan laporan tahunan yang kejar tayang..wueekkkk.

Tapi natal tetap harus dimaknai, meskipun ritual-ritual natal klasik dengan setumpuk kegiatan kerohanian dan sederet jadwal silahturahmi sudah lewat dari hidup saya sejak saya berpamitan pada ibu bapak dan keluarga besar untuk memulai hidup menjadi musafir, bahkan dengan bumbu-bumbu penghiburan kalau nanti di tengah perjalanan ternyata saya memutuskan untuk melajang (hehehheheh..teringat peristiwa itu sekitar 4 tahun yang lalu).

Terus terang saya merindukan kegiatan-kegiatan klasik selayaknya orang yang merupakan salah satu bagian dari keluarga. Kumpul, makan bersama, saling memberi hadiah dll. Tapi karena saya sudah memutuskan untuk menulis cerita saya sendiri dengan cara seperti ini...yah mari kita rayakan pilihan ini...

dan ucapkan selamat datng pada natal kali ini Han...

Natal kali ini saya adalah biarawan yang sedang menghitung dosa. 

Mengingat sekian banyak kesalahan fatal yang saya lakukan  tahun-tahun belakangan ini, menimbulkan luka, kekeringan dalam diri saya sendiri, perasaan kosong dan ketidak puasan. Saya merasa terasing dari kehidupan yang puas dan penuh seperti yang pernah saya alami sebelumnya. Saya menyesali kebodohan-kebodohan yang saya lakukan yang membuat saya tercerabut dari kehidupan merdeka dimana sukacita saya tidak bergantung dari apa yang ada diluar tetapi apa yg mengalir dari dalam...itu yang paling saya sesali...addduuuuhhhh...apa yang saya kejar sebenarnya?? Apa yang saya cari sebenarnya?? Perlukah itu semua saya dapatkan jika untuk mendapatkannya saya harus kehilangan diri saya sendiri...
dan dipenghujung tahun saat saya duduk di laboratorium menuliskan ini semua, saya hanya bisa menyesal..menyesal dan menyesal...

Natal kali ini saya adalah si anak hilang yang menuai berkat di pangkuan bapa setelah pengkhianatan saya

Ada berkat yang bisa dituai karena bahkan dalam keterpurukan ada sisi indah kehidupan yang layak dirayakan. Persahabatan yang indah dengan kawan-kawan baru, hubungan yang semakin matang dengan keluarga, kekanak-kanakan yang dibuka dan ditelanjangi didepan mata dan siap untuk diperbaiki. Mujizat orang lain yang saya saksikan dan mujizat yang secara pribadi saya alami...
Tapi berkat terindah tetaplah : kesempatan kedua, pengampunan dan pertumbuhan watak...tidak ada yang melebihi berharganya berkat itu bagi saya....
Saya menuainya setelah sekian banyak badai muncul dan mereda dalam hidup saya akhir-akhir ini. 
Saya berharap terus menuai berkat, dan ini daftar berkat yang ingin saya tuai dimasa-masa mendatang : Kasih pada sesama yang semakin besar, jiwa yang semakin tenang dan tidak meledak-ledak, pikiran yang semakin tajam dalam menimbang dan memutuskan, dan hati yang semakin lapang menerima segala bentuk perlakuan tanpa merusak bangunan baik yang sudah dikaruniakan semesta dalam jiwa saya.

Natal kali ini saya adalah Kaleb yang sedang menagih janji

Saatnya saya hendak menagih janji: Janji apa???
Tanah perjanjian. Dimana saya tinggal dan menjadi saluran berkat untuk orang lain. Tentu bukan tanah dalam arti harafiah. Sebuah proyek sedang saya khayalkan, dan ingin saya realisasikan. Proyek yang sering saya bagi dengan sahabat-sahabat menelanjangi malam dan menghitung bintang. Proyek yang proposalnya saya pahat dalam  loh-loh hati saya dan selalu saya pertaruhkan dengan lutut saya pada masa-masa hening saya. Saya adalah Kaleb yang berdiri didepan Yosua dan menagih sebuah tanah warisan perjanjian.

Natal inilah masa penyaliban saya

Inilah ziarah besar yang ingin saya lakukan selanjutnya. Rute saya kali ini adalah perjalanan batiniah seperti yang dilakukan si Lalita. Masuk kedalam, mengobok-obok dan membongkar semua kedagingan.
Dan saya ingin menyalibkan diri saya. Mati. Tak tercatat lagi oleh dunia. Tak diingat lagi oleh sejarah.


Hingga saya mencapai apa yang disebut AXIS MUNDI. 


Berharap dengan begini saya mengalami apa yang disebut remuknya insan lahiriah dan terbitnya insan batiniah
Berharap dengan begini saya menikmati kepuasan sejati, yang tidak ditentukan dari apa yang ada di luar tetapi apa yang mengalir dari dalam.
Sekalipun kondisi-kondisi tidak nyaman dan serba kurang tapi manusia batiniah saya bisa tunduk dan berespon dengan tenang. 
Dalam segala kesesakan, saya tidak kehilangan sukacita saya, saya tetap bisa melayani orang lain dan saya tetap bisa mengerjakan bagian saya dengan kualitas unggul bukan untuk mencari hormat di bumi tetapi mencari harta di dimensi keabadian..zaman yang tidak lagi dihitung dengan satuan detik, menit dan jam... itulah kekekalan.

Entah bagaimana caranya daging dan tulang belulang yang reot dimakan kesombongan, keegoisan dan sifat tinggi hati dalam diri saya,,bisa melawan hukum fisika dan membuahkan manusia batiniah dalam tataran makrifat...hihihi entahlah..mungkin butuh sebuah kekuatan adikodrati..pasti..kekuatan yang adikodrati...

Tapi saya ingin mencapainya..bukan seolah-olah saya sudah mendapatkanya...tetapi ini yang ingin saya lakukan..melupakan apa yang ada dibelakang saya dan berlari-lari mencapai apa yang ada didepan saya..panggilan yang mulia (saduran bebas dari surat Paulus).

selamat natal Hana...namamu Hana mengandung sejumlah doa...bahwa sekian banyak hal telah merusak hal-hal yang baik dalam dirimu...percaya saja bahwa penciptamu tidak pernah kekurangan kasih karunia yang menuntunmu ke jalan pulang saat kau tersesat dan tak tahu arah pulang..

Natal..pulanglah sejenak ke rumahmu..seraya mempersiapkan bekal untuk ziarahmu yang baru...





Di Danau Infote by Ilambra (www.ilambra.blogspot.com)

NATAL, CINTA DAN LUKA (reposting cacatan natal 2012 from Papua Barat)

Ini janji saya...meposting ulang catatan natal 2012


NATAL, CINTA DAN LUKA
(A part of my trip journal..)

Berada di sebuah titik di Indonesia Timur, kampung pesisir namanya Seged, tepatnya 3 jam dari kota Sorong Papua Barat. Disana tinggal kelompok masyarakat Suku Moi Lamas. Pekerjaan mereka adalah petani sagu dan nelayan. Kampungnya kecil, pantainya indah dan yang paling menakjubkan adalah warna senjanya yang selalu tembaga emas meskipun sebelumnya tersiram hujan.

Saya sering duduk di pinggir pantai dengan wajah melankolis dan mata berkaca-kaca (wueeekkkk...). Mata berkaca-kaca selalu lebih menusuk daripada air mata yang beneran jatuh seperti kalo saya lagi mewek lebay. Yang paling sering membuat mata berkaca-kaca adalah lagu-lagu natal yang diputar sangat kenceng pake speaker kampung dan diputar setiap sore karena listrik diesel hanya sanggup menyala selama 3 jam. Mirip banget suasana Desa saya di wonogiri kalau ada acara nikahan.

Kembali ke lagu natal di kampung Suku Moi....Ah Natal..saya mulai mengalami kesulitan memungut kenangan-kenangan saya tentang natal yang indah. Tetapi tidak semua melayang hilang dari simpanan memori : Ibu saya yang selalu panik setiap natal dan menyuruh Mbak Saniem (tetangga yang pintar memasak) untuk membuat opor dan sup, Bapak lebih sibuk ngurus natal di gereja dan selalu menelepon dengan nada kesal kalau setiap tanggal 24 Desember malam saya masih berkutat dengan pekerjaan saya di Jogja. Lalu kehangatan teman-teman saya di PSKS (Mb Vana, M.Sinta, M.Dian, M.Yuyun, Dewi,Aji, Imen, Santi, Kandi, Bu Uc dan M.Indah) yang selalu ngajak angkringan, keluarga saya di Desa Wonogiri yang ribut reunian pas natalan. Gerna, Adhe, Mas Danang dan Nanda yang preman tapi tidak pernah melewatkan ucapan natal. Teman-teman di gereja yang sibuk luar biasa setiap natal tiba. Semua kenangan kehangatan berbaur dengan lagu natal di kampung Moi tambah pantai dan senja yang indah..jadilah saya melo plus lebay dot com.

Tetapi menggali lebih dalam tentang natal...saya semakin tercengang dengan betapa jauhnya perjalanan yang sudah saya tempuh. Kesakitan, kehilangan dan perdebatan saya dengan Tuhan di masa-masa hening saya membuat saya merasa seperti gadis kecil yang merindukan jalan pulang. Natal tentu saja sudah berevolusi sedemikian rupa dalam hidup saya. Sensasi kehangatan natal klasik samar-samar kabur seiring semakin jauhnya pengembaraan saya, semakin banyaknya kehilangan dan rasa sakit yang saya saksikan disekeliling. Tapi saya sadar bahwa saya tidak akan pernah kehilangan esensi natal.

Dalam pemahaman saya saat ini Natal adalah perayaan persiapan penderitaan yang maha dahsyat dari pribadi yang saya sembah. Merelakan tahtaNya di surga dan hadir sebagai manusia biasa, menjalani kehidupan dalam kemiskinan, dipermalukan, diperolok sampai akhirnya mati sebagai narapidana rendah di kayu salib. Atas nama cinta. Dan cinta yang penuh luka…jangan pernah bicara cinta jika tidak sanggup menanggung luka..surga saksinya, palungan buktinya dan kayu salib adalah karya yang menyempurnakan cinta Sang Pencipta pada umat manusia. Natal adalah momen penuh cinta..iya saya sepakat…..tapi cinta bukanlah cinta tanpa kesanggupan menaggung luka….Tuhan sedemikian mencintai saya hingga terluka…
Maka perenungan natal saya tahun ini: sanggupkah saya mencintai hingga terluka? Sanggupkah saya terluka untuk pribadi-pribadi yang saya cintai??

Tentu saja saya terlalu pengecut untuk memberi jawaban Ya pada pertanyaan ini…bahkan untuk menjawab ‘ya, saya akan mencoba’ pun saya sungguh tak punya nyali…
Entahlah….

SELAMAT MEMPERSIAPKAN NATAL….MOMEN YANG PENUH CINTA…