Ini janji saya...meposting ulang catatan natal 2012
NATAL, CINTA DAN LUKA
(A part of my trip journal..)
Berada di sebuah titik di Indonesia Timur, kampung pesisir namanya
Seged, tepatnya 3 jam dari kota Sorong Papua Barat. Disana tinggal
kelompok masyarakat Suku Moi Lamas. Pekerjaan mereka adalah petani sagu
dan nelayan. Kampungnya kecil, pantainya indah dan yang paling
menakjubkan adalah warna senjanya yang selalu tembaga emas meskipun
sebelumnya tersiram hujan.
Saya
sering duduk di pinggir pantai dengan wajah melankolis dan mata
berkaca-kaca (wueeekkkk...). Mata berkaca-kaca selalu lebih menusuk
daripada air mata yang beneran jatuh seperti kalo saya lagi mewek lebay.
Yang paling sering membuat mata berkaca-kaca adalah lagu-lagu natal
yang diputar sangat kenceng pake speaker kampung dan diputar setiap sore
karena listrik diesel hanya sanggup menyala selama 3 jam. Mirip banget
suasana Desa saya di wonogiri kalau ada acara nikahan.
Kembali
ke lagu natal di kampung Suku Moi....Ah Natal..saya mulai mengalami
kesulitan memungut kenangan-kenangan saya tentang natal yang indah.
Tetapi tidak semua melayang hilang dari simpanan memori : Ibu saya yang
selalu panik setiap natal dan menyuruh Mbak Saniem (tetangga yang pintar
memasak) untuk membuat opor dan sup, Bapak lebih sibuk ngurus natal di
gereja dan selalu menelepon dengan nada kesal kalau setiap tanggal 24
Desember malam saya masih berkutat dengan pekerjaan saya di Jogja. Lalu
kehangatan teman-teman saya di PSKS (Mb Vana, M.Sinta, M.Dian, M.Yuyun,
Dewi,Aji, Imen, Santi, Kandi, Bu Uc dan M.Indah) yang selalu ngajak
angkringan, keluarga saya di Desa Wonogiri yang ribut reunian pas
natalan. Gerna, Adhe, Mas Danang dan Nanda yang preman tapi tidak pernah
melewatkan ucapan natal. Teman-teman di gereja yang sibuk luar biasa
setiap natal tiba. Semua kenangan kehangatan berbaur dengan lagu natal
di kampung Moi tambah pantai dan senja yang indah..jadilah saya melo
plus lebay dot com.
Tetapi menggali lebih dalam tentang
natal...saya semakin tercengang dengan betapa jauhnya perjalanan yang
sudah saya tempuh. Kesakitan, kehilangan dan perdebatan saya dengan
Tuhan di masa-masa hening saya membuat saya merasa seperti gadis kecil
yang merindukan jalan pulang. Natal tentu saja sudah berevolusi
sedemikian rupa dalam hidup saya. Sensasi kehangatan natal klasik
samar-samar kabur seiring semakin jauhnya pengembaraan saya, semakin
banyaknya kehilangan dan rasa sakit yang saya saksikan disekeliling.
Tapi saya sadar bahwa saya tidak akan pernah kehilangan esensi natal.
Dalam pemahaman saya saat ini Natal adalah perayaan persiapan
penderitaan yang maha dahsyat dari pribadi yang saya sembah. Merelakan
tahtaNya di surga dan hadir sebagai manusia biasa, menjalani kehidupan
dalam kemiskinan, dipermalukan, diperolok sampai akhirnya mati sebagai
narapidana rendah di kayu salib. Atas nama cinta. Dan cinta yang penuh
luka…jangan pernah bicara cinta jika tidak sanggup menanggung
luka..surga saksinya, palungan buktinya dan kayu salib adalah karya yang
menyempurnakan cinta Sang Pencipta pada umat manusia. Natal adalah
momen penuh cinta..iya saya sepakat…..tapi cinta bukanlah cinta tanpa
kesanggupan menaggung luka….Tuhan sedemikian mencintai saya hingga
terluka…
Maka perenungan natal saya tahun ini: sanggupkah saya
mencintai hingga terluka? Sanggupkah saya terluka untuk pribadi-pribadi
yang saya cintai??
Tentu saja saya terlalu pengecut untuk
memberi jawaban Ya pada pertanyaan ini…bahkan untuk menjawab ‘ya, saya
akan mencoba’ pun saya sungguh tak punya nyali…
Entahlah….
SELAMAT MEMPERSIAPKAN NATAL….MOMEN YANG PENUH CINTA…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar