Minggu, 08 Desember 2013

NATAL, CINTA DAN LUKA (reposting cacatan natal 2012 from Papua Barat)

Ini janji saya...meposting ulang catatan natal 2012


NATAL, CINTA DAN LUKA
(A part of my trip journal..)

Berada di sebuah titik di Indonesia Timur, kampung pesisir namanya Seged, tepatnya 3 jam dari kota Sorong Papua Barat. Disana tinggal kelompok masyarakat Suku Moi Lamas. Pekerjaan mereka adalah petani sagu dan nelayan. Kampungnya kecil, pantainya indah dan yang paling menakjubkan adalah warna senjanya yang selalu tembaga emas meskipun sebelumnya tersiram hujan.

Saya sering duduk di pinggir pantai dengan wajah melankolis dan mata berkaca-kaca (wueeekkkk...). Mata berkaca-kaca selalu lebih menusuk daripada air mata yang beneran jatuh seperti kalo saya lagi mewek lebay. Yang paling sering membuat mata berkaca-kaca adalah lagu-lagu natal yang diputar sangat kenceng pake speaker kampung dan diputar setiap sore karena listrik diesel hanya sanggup menyala selama 3 jam. Mirip banget suasana Desa saya di wonogiri kalau ada acara nikahan.

Kembali ke lagu natal di kampung Suku Moi....Ah Natal..saya mulai mengalami kesulitan memungut kenangan-kenangan saya tentang natal yang indah. Tetapi tidak semua melayang hilang dari simpanan memori : Ibu saya yang selalu panik setiap natal dan menyuruh Mbak Saniem (tetangga yang pintar memasak) untuk membuat opor dan sup, Bapak lebih sibuk ngurus natal di gereja dan selalu menelepon dengan nada kesal kalau setiap tanggal 24 Desember malam saya masih berkutat dengan pekerjaan saya di Jogja. Lalu kehangatan teman-teman saya di PSKS (Mb Vana, M.Sinta, M.Dian, M.Yuyun, Dewi,Aji, Imen, Santi, Kandi, Bu Uc dan M.Indah) yang selalu ngajak angkringan, keluarga saya di Desa Wonogiri yang ribut reunian pas natalan. Gerna, Adhe, Mas Danang dan Nanda yang preman tapi tidak pernah melewatkan ucapan natal. Teman-teman di gereja yang sibuk luar biasa setiap natal tiba. Semua kenangan kehangatan berbaur dengan lagu natal di kampung Moi tambah pantai dan senja yang indah..jadilah saya melo plus lebay dot com.

Tetapi menggali lebih dalam tentang natal...saya semakin tercengang dengan betapa jauhnya perjalanan yang sudah saya tempuh. Kesakitan, kehilangan dan perdebatan saya dengan Tuhan di masa-masa hening saya membuat saya merasa seperti gadis kecil yang merindukan jalan pulang. Natal tentu saja sudah berevolusi sedemikian rupa dalam hidup saya. Sensasi kehangatan natal klasik samar-samar kabur seiring semakin jauhnya pengembaraan saya, semakin banyaknya kehilangan dan rasa sakit yang saya saksikan disekeliling. Tapi saya sadar bahwa saya tidak akan pernah kehilangan esensi natal.

Dalam pemahaman saya saat ini Natal adalah perayaan persiapan penderitaan yang maha dahsyat dari pribadi yang saya sembah. Merelakan tahtaNya di surga dan hadir sebagai manusia biasa, menjalani kehidupan dalam kemiskinan, dipermalukan, diperolok sampai akhirnya mati sebagai narapidana rendah di kayu salib. Atas nama cinta. Dan cinta yang penuh luka…jangan pernah bicara cinta jika tidak sanggup menanggung luka..surga saksinya, palungan buktinya dan kayu salib adalah karya yang menyempurnakan cinta Sang Pencipta pada umat manusia. Natal adalah momen penuh cinta..iya saya sepakat…..tapi cinta bukanlah cinta tanpa kesanggupan menaggung luka….Tuhan sedemikian mencintai saya hingga terluka…
Maka perenungan natal saya tahun ini: sanggupkah saya mencintai hingga terluka? Sanggupkah saya terluka untuk pribadi-pribadi yang saya cintai??

Tentu saja saya terlalu pengecut untuk memberi jawaban Ya pada pertanyaan ini…bahkan untuk menjawab ‘ya, saya akan mencoba’ pun saya sungguh tak punya nyali…
Entahlah….

SELAMAT MEMPERSIAPKAN NATAL….MOMEN YANG PENUH CINTA…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar