Jumat, 21 Februari 2014

memerangi stagnasi....

hai..haiiiii..

Aduh lama sekali saya tidak menulis dan menyambangi my Tectona Grandis...dan bagi saya itu adalah sinyal bahaya untuk jiwa saya..

Pada saat segala sesuatu berjalan begitu lembam dan nyaman..maka saat itu keliaran jiwa padam, kegilaan mulai surut dan akhirnya inspirasi meredup...mungkin stagnasi ini yang sedang saya hadapi...

Sejak dulu saya tahu bahwa ada titik2 rawan yang mengancam eksistensi saya..dan dari semua titik rawan itu saya mulai mengenali dengan baik bahwa virus yang paling berbahaya bagi sistem antibodi saya adalah sebuah virus yang bernama : ZONA NYAMAN...

Entah apakah saya sedang memasuki area dimana ruang berfikir mulai menyempit dan kreativitas mulai menipis??
Tapi akhir-akhir ini jarang sekali saya terlibat dalam pertarungan keresahan dan pencarian yang membuat saya mampu duduk berlama-lama didepan labtop, mencoret-coret dinding Tectona Grandis...
Ada sesuatu yang hilang dalam diri saya pada saat saya mulai menemukan kemapanan...
saya bukan lagi si kecil yang gelisah dan berdebat dengan rumus2 alam semesta..
saya merasa bahwa jiwa saya terlalu bersuka ria dan mudah puas dengan segala yang ada..
apakah saya sudah terbunuh..atau hanya mati suri...
saya merindukan saya yang terlalu reseh dengan lekuk-lekuk emosi hingga saya kehabisan diksi untuk mengekspresikan semua kegalauan dalam puisi...
justru sekarang saya sedang berfikir....
apakah pencarian saya dan keresahan saya sudah mencapai titik final????

bahwa saya merasakan cinta yang nikmat dan candu seperti layaknya trah manusia meretas matang pada usia saya..
saya tahu dan kami tahu itu bukan satu2nya pencarian selama ini..

entahlah....
saya tidak ingin terbunuh mati dalam si bengis stagnasi..tidak..tidak..tidak...

no...
anggaplah saya seperti pohon yang sedang meranggas untuk menghormati semesta musim gersang...dan dari setiap butir sel si pohon mempersiapkan sebuah pesta pora menyambut musim basah dengn gaun helai-helai hijau yang menggairahkan...

anggaplah..saya seonggok kayu mati di tepi pantai yang seolah tak terlalu penting...tapi kawanan rayap dan mikroorganisme pembusuk mulai mengnyam remah-remah selulosa menjadi peraduan tempat lumut si perintis dan paku-pakuan menegakkan dinasti mereka di jagad raya...

yang jelas..saya hanya meranggas..dan bukan mati...



sebatang pohon di Manggoapi-Manokwari Papua Barat..meranggas dan bukan mati



sebatang kayu yang dirajah kawanan rayap dan mikroorganisme hingga tersulam tempat berpijak tanaman perintis





Tidak ada komentar:

Posting Komentar