Rabu, 31 Desember 2014

Sebuah keresahan : 'kekayaan selaksa kata dan bahasa manusia..oh 2015..akankah aku kehilanganmu....'


Tahun 2014 akan berlalu..tahun 2015 akan datang...

Bagi saya tahun 2015 adalah tahun yang menegangkan...tapi saya mencoba untuk rileks dan tidak lebay...kenapa tegang??

Saya sudah memasuki tahap kemapanan, dan bagi saya itu menegangkan..sungguh perasaan yang aneh dan sulit saya definisikan...

Tahun 2009 saya lulus Pasca Sarjana...lalu saya mulai menikmati pekerjaan saya sebgai peneliti free lance yang tidak terikat. Saya tinggal di kost2an Abi dengan tarif Rp 175.000 per bulan, kasur saya tipis, di dalam kamar hanya terdapat seperangkat PC tinggalan S1 dulu, lemari plastik, dan rak buku yang padat dan over load. Saya mencari uang dengan menjadi peneliti kontrak di pagi-siang hari, menjadi pengajar di sebuah bimbingan belajar dan menjadi konsultan di beberapa SMA dalam hal pelatihan olimpiade science. Saya hidup di 2 kota Solo dan Jogja, sesekali mengambil data ke Karimun Jawa dan sering bepergian dengan kereta api jika ada pertemuan di Jakarta.

Saya jomblo waktu itu, saya punya banyak teman tapi saya jatuh cinta setengah gila pada seorang laki-laki (dan sekaligus mahaguru saya, ohhh saya sangat berhutang budi padanya). Laki-laki yang saya taksir sering bepergian dan sering tidak terdengar kabarnya. Sementara saya sendiri, dalam urusan cinta sudah membuat banyak orang patah hati, terutama bapak, ibu dan kakak saya, yang sering saya panggil Bu Uc. Mereka orang-orang yang paling rusak jantungnya karena melihat polah tingkah saya. Di saat semua teman saya sudah mulai memasuki tahapan 'mapan' dalam kehidupannya, tentu 'mapan' menurut sistem nilai yang umum beredar saat itu : pekerjaan yang pasti, pacar yang siap digandeng ke pelaminan, dll. sedangkan saya...hahahha...Saat itu, saya justru larut dalam pekerjaan saya yang sulit dijelaskan identitasnya, pacar jelas tidak ada atau paling tidak, tidak terlihat oleh mereka dsb.

Tapi dalam segala hal yang tidak pasti itu, saya menemukan banyak hal yang menyenangkan...seakan-akan aliran darah saya sudah menyatu dengan detak-detak ketegangan kejar tayang karena pekerjaan yang tidak beridentitas itu ternyata membawa konsekuensi saya punya banyak sekali proyek yang harus dibuat laporannya wkwkwkkwk...Belum lagi, saya harus hidup di 2 kota yang sama-sama menuntut kehadiran saya. Terus saat penghasilan dan gaji saya sedang tidak terlalu banyak, maka saya mulai mencari berbagai inovasi berhemat...mulai dari makan quacker oat saja, membeli nasi padang yang porsinya luar biasa besar dan membagi menjadi 2 porsi untuk 2 kali makan, menyimpan stock cincau dan sayur kangkung sampai memakan bubur bayi...ohhh my God..semua dalam rangka berhemat wkwkwkkw...

Masa-masa menjomblo bagi sayapun gag kalah seru. Saya ingat setiap malam setelah saya menyelesaikan tugas saya di kantor atau di lab, saya sering menghabiskan waktu saya di Bentara Budaya, melihat lukisan atau pameran desain grafis, saya menghabiskan waktu menonton teater, pertunjukkan musik perkusi, musikalisasi puisi, bedah buku, nonton wayang dan sendratari. Semua saya nikmati sendirian...kadang sih dengan beberapa teman.

Di Jogja saya punya komunitas teman-teman yang otaknya setengah gila seperti saya. Mereka kebanyakan adalah teman-teman di klub teater SMA, klub pecinta alam. Ada juga komunitas teman-teman kuliah yang sedang mengambil doktoral dan master. Saya juga berteman dengan beberapa teman waria, ODHA, beberapa suster, bruder dll. Mereka yang menyuntikkan berbagai nilai dan inspirasi. Di Solo, tentu saya punya saudara-saudara persekutuan yang sama-sama berjuang menjadi manusia yang baik.

Saya  belajar banyak kosa kata. Saya punya ribuan bahasa. Saya memilki kekayaan perasaan. Saya menulis cerpen, saya mencetak novel, saya membuat puisi, naskah drama dan dipentaskan. Dan tentu saja disamping itu, saya membuat proposal penelitian, modifikasi prosedur-prosedur kerja di laboratorium, kajian kesehatan. Saya bertemu dengan banyak pakar, berkorespondensi dengan ahli-ahli di bidang yang saat itu saya minati, mikrobiologi molekular dan evolusi.

hidup yang sangat seru...

Tahun 2012 oleh sebuah tawaran (red.tantangan) saya berangkat ke Papua. Sebuah tempat yang hanya saya lihat melalui mimpi dan penglihatan. Saya bekerja di sebuah lembaga penelitian pemerintah sebagai tenaga kontrak. Saya diberi kemurahan oleh atasan saya untuk tinggal di sebuah mess selama saya menjadi tenaga kontrak. Saya benar-benar pergi dari Jogja dan Solo yang penuh kenangan. masih dalam posisi single, happy dan tentu saja pekerjaan yang belum mapan (ini yang selalu saya sukai).

Tahun-tahun pertama saya habiskan untuk beradaptasi dengan banyak hal, budaya, teman-teman, kebiasaan hidup dan oh my God tentu saja biaya hidup yang sangat tinggi. Papua sangat indah, entah kenapa saya jatuh cinta dengan tempat ini, meski saya tahu harga 1 porsi nasi padang disini sama dengan 20 porsi nasi kucing di Jogja.

Tapi yahhh...bagi saya itu setara dengan pemandangan laut yang bisa saya nikmati setiap joging, dan kadang karena gag tahan saya sering langsung nyebur di Pantai Dok 2, lalu pulang ke mess dalam keadaan basah heheh. Pekerjaan saya tidak terlalu berbeda dengan yang saya kerjakan di Jogja, laboratorium, pasien, klinik, rumah sakit, penderita Tb dan mikrobiologi molekular. Cuma bedanya saya dipertajam dalam hal administrasi. Disini saya mulai bersentuhan dengan undang-undang, peraturan pemerintah dan tata kelola keuangan negara. Dulu saya gag terlalu pusing dengan urusan itu, tapi disini ya mau gag mau belajar.

Dalam beberapa bulan  saya mulai menemukan sahabat-sahabat baru, tentu saja ada beberapa tekanan dan konflik yang saya alami. Pernah juga gag tahan, dan packing barang plus mau pulang ke Jawa atau ke Sulawesi, tapi akhirnya toh saya tetap tinggal sampai sekarang.

Saya mulai melihat berbagai realitas yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Kesenjangan, ketidakadilan, karakter-karakter negatif dalam diri manusia bermunculan dihadapan saya sesering munculnya karakater-karakter negatif dalam diri saya yang tiba-tiba meledak saat saya merespon suatu hal yang kurang pas di hati saya. Saya mulai mengenali bagian-bagian dalam diri saya yang belum pernah saya lihat sebelumnya, dan beberapa sesungguhnya menakutkan bagi saya. Tapi banyak hal yang baik juga yang saya alami.

Saya mulai mendata mimpi-mimpi yang ingin saya lakukan di Papua. Diantaranya adalah mimpi untuk membangun sebuah sekolah alam dan perpustakaan kecil. Ohhh semoga semesta merestui..

Dalam posisi saya yang jomblo, saya bebas bergerak. Saya tidak takut bahaya, kelaparan dan kekurangan uang. Saya mulai menulis artikel-artikel tentang enaknya hidup melajang. Saya mulai mengenang pengalaman-pengalaman sial saya dalam asmara dan mulai pintar menertawai nasib sial saya. Saya mendapat like dari puluhan kadang ratusan orang setiap kali posting hal-hal yang berkaitan dengan status jomblo. Saya punya banyak kalimat pembelaan yang mampu dipakai kaum jomblo untuk menyelamatkan dirinya dari caci maki dunia. Toh jomblo bukan dosa..

Tapi penghujung tahun 2014 sangat menegangkan...saya takut apakah petualangan2 hati dan fisik yang saya nikmati diatas akan saya nikmati lagi. Sekarang pekerjaan saya relatif mapan, saya sudah jarang melewati garis-garis kritis masa bokek dan saya sudah bukan jomblo lagi. Tapi saya belum ingin menuliskan pengalaman romantis saya disini, karena saya masih dalam eforia masa berpacaran dan ingin menikmati itu sebagai pengalaman yang sangat personal. Pasangan saya baik dan tahu bahwa saya punya seribu satu petualangan semasa jomblo saya, seperti dia juga.

Tetapi ketegangan itu tetap mewarnai doa-doa pagi saya. Saya hanya tidak ingin kehilangan ratusan bahasa untuk menulis puisi dan membuat artikel. Saya tidak ingin miskin perasaan karena saya sudah tidak lagi hidup dalam pertanyaan-pertanyaan kehidupan. Saya takut kehilangan ketajaman indra saya pada kesepian, kesedihan dan kehilangan karena hal-hal itulah yang menumbuhkan rasa empati saya pada orang lain. Dan yang pasti saya sedang merasa bersalah dan mengkhianati teman-teman jomblo yang selama ini senasib dan sepenanggungan dengan saya.

Tapi..setiap kali saya melihat wajah lelaki tanah saya, saya tahu bahwa teman perjalanan ini akan membuat saya lebih banyak mengenal bahasa dan rasa kehidupan...saya sudah menikmati beberapa selama masa pacaran ini.

Tapi tetep tegang dan resah...oh tahun 2015...begitu menegangkan bagi saya..jadi dalam ketegangan ini saya ingin menuliskan puisi klasik milik Asaf yang selalu saya ulang di memori saya:

SIAPAKAH ADA PADAKU DI SURGA SELAIN ENGKAU....
SELAIN ENGKAU TIDAK ADA YANG KUINGINI DI BUMI....
SEKALIPUN DAGINGKU DAN JIWAKU HABIS LENYAP.....
GUNUNG BATU DAN KEKUATANKU TETAPLAH ALLAH...
SELAMANYA.....




Di Perbatasan NKRI dan Papua New Guini-Soeta Merauke
Kp.Puai-Sentani


Angkasa-Jayapura


Pantai Base G


Telaga Hati Infote - Sentani


Tidak ada komentar:

Posting Komentar